Semakin Meyakini, Semakin Menghargai

Dalam kehidupan beragama, takfirisme merupakan sikap yang sangat berbahaya. Takfiri dapat diartikan sebagai mengkafirkan, menyesatkan atau menganggap orang yang berbeda dengannya adalah kafir. Sikap ini bukan hanya akan menimbulkan perilaku intoleransi dalam kehidupan, namun juga dapat berujung pada tindakan radikal terorisme.

Takfiri merupakan salah satu sikap yang muncul dari pemahaman agama yang sangat sempit dan tekstual. Dalam sejarahnya, sikap ini berawal dari sikap orang-orang khawarij yakni kelompok yang mulanya adalah barisan pendukung Ali bin Abu Thalib namun kemudian keluar karena kecewa dengan Ali bin Abu Thalib dan Muawwiyah bin Abu Sufyan. Mereka kemudian menganggap kafir dan sesat orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka. Hal ini merupakan hal yang berbahaya sebab bagi kelompok ini kebenaran hanyalah milik mereka.

Dalam konteks Indonesia dewasa ini dimana teknologi sudah sangat canggih dan sosial media dapat diakses oleh siapapun, fenomena takfiri semakin hari semakin sering kita jumpai dari dunia maya hingga ke dunia nyata. Penyebaran paham dan sifat takfiri ini dengan sangat mudah menyebar luas sebab sulit dikontrol tingkat kelayakannya. Terlebih jika paham ini disebarkan oleh orang yang diidolakan oleh kebanyakan pengguna sosial, apapun yang “ustadz/ guru” tersebut katakan maka akan dianggap sebagai suatu kebenara sekalipun keluar dari ajaran agama.

Budaya mengkafirkan semakin menyeruak di sosial media dan banyak menyerang tokoh atau organisasi keagamaan yang berbeda paham dengan mereka. Kebanyakan dari mereka berpegang pada hadits yang menyatakan bahwa di akhri jaman Islam akan terbagi dalam 73 golongan namun hanya 1 golongan yang benar. Kelompok-kelompok ini kemudian mengklaim dirinya adalah 1 golongan yang benar ini dan menganggap yang lain salah.

Di Indonesia sendiri sifat takfiri menjadi hal yang sangat mencoreng nama agama. Pasalnya, umat agama lain saja menghormati dan menghargai keyakinan kita, namun sesama umat Islam sendiri justru saling mengkafirkan hanya karna beda golongan dan berbeda kepentingan.

Maka dari itu perlu adanya kesadaran untuk mempelajari agama secara mendalam dan kontekstual. Tidak salah memang mempelajari agama dimana saja, namun di era digital yang minim kontrol ini kita harus pandai-pandai mengontrol diri dan alangkah baiknya jika dalam hal mempelajari agama kita tidak hanya menelan mentah ceramah-ceramah yang ada di dunia maya tetapi juga mendalaminya dengan belajar dan bermuajahah dengan guru agama agar ilmu yang didapatkan lebih mendalam, bukan hanya sebatas doktrin dalil melalui video berdurasi satu menit tetapi juga dapat mengkaji lebih mendalam tafsir dari dalil-dalil yang disampaikan agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami dalil.

Meminjam kalimat yang digaungkan Convey Indonesia “meyakini menghargai” dimana ketika kita meyakini suatu ajaran agama sebagai sebuah kebenaran mutlak, maka kita juga akan menyakini apa yang diyakini oleh orang lain sebagai kebenaran mutlak menurut versinya. Ini bukan bermakna bahwa semua keyakinan sama benarnya, tetapi lebih kepada menghargai apa yang orang lain yakini, seperti kita ingin keyakinan kita dihargai oleh orang lain juga agar tidak terjadi gesekan dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.

Sebab dalam agama Islam sendiri setiap golongan mempunyai cara dan tingkatannya masing-masing dalam beribadah kepada Allah SWT. Jangan sampai ibadah kita menjadi sia-sia hanya karena mengadu domba dan memfitnah saudara kita. Fokuslah pada ibadah kita. Jalankan Rukun Iman, Rukun Islam dan Ihsan dengan sebaik-baiknya, berbuat baiklah kepada semua orang. Sebab Islam bukan hanya tentang hablumminallah tetapi juga hablumminannaas, maka jadilah setaat-taatnya hamba dan sebaik-baiknya manusia yang memanusiakan manusia.

Penulis : Annisa Fathia Hana

0 comments on “Semakin Meyakini, Semakin MenghargaiAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *