CEGAH RADIKALISME HINGGA TERORISME DIMULAI DARI KITA

Radikalisme, ekstremisme dan terorisme seringkali dikaitkan satu sama lain hingga orang sering salah mengartikan. Padahal, orang yang radikal belum tentu ekstrem dan menjadi teroris, pun orang yang dianggap ekstrem belum tentu terlibat terorisme.

Tentang Radikalisme

Term “radikalisme” berasal dari kata radikal yang dalam KBBI berarti maju dalam berpikir dan bertindak. Masalah muncul saat terjadi penambahan sufiks “-isme” yang memberikan makna tentang pandangan hidup dan keyakinan hingga sering disambungkan dengan suatu aliran atau kepercayaan tertentu. Dalam perkembangannya, term “radikalisme” dianggap negatif dan beriringan dengan intoleransi.

Tentang Ekstremisme

Ektremisme adalah istilah yang digunakan untuk sikap yang berlebih-lebihan atau melampaui batas (atas sebuah hukum dan sebagainya). Para ekstremin biasanya memiliki pemikiran dan sikap atas suatu ideologi yang dianggap jauh dari standar masyarakat umum. BNPT menyatakan bahwa terdapat proses perubahan seseorang dari radikalis hingga ekstremis, yaitu proses radikalisasi.

Orang-orang yang sudah teradikalisasi biasanya tidak segan melakukan tindakan ekstrem untuk mewujudkan pemikiran dan sikap radikalnya. Meski demikian, ada juga ekstremis yang tidak melakukan kekerasan semacam aksi teror.

Tentang Terorisme

Menurut UU Nomor 15 Tahun 2003, terorisme adalah penggunaan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan situasi teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas dan menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas harta benda orang lain, yang mengakibatkan kerusakan atau kehancuran obyek-obyek vital strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik dan fasilitas internasional.

Secara etimologi, istilah terorisme berasal dari kata “to Terror” dalam bahasa inggris. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, terror diartikan sebagai suatu usaha untuk menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan tertentu.

Bijak dalam Menggunakan Istilah

Pada dasarnya, radikalisme merupakan pemikiran maju untuk sebuah perubahan, dan hal tersebut dapat berarti positif. Jika radikalisme dikembangkan dalam bingkai makna tersebut, maka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, radikalis dalam makna ini merupakan pendukung reformasi jangka panjang. Namun, melencengnya makna radikalisme kian menimbulkan kekeliruan, hingga akhirnya kini istilah tersebut bermakna negatif.

Maka dari itu, kini, alangkah lebih baik apabila kita mengontrol diri dengan tidak menggunakan ketiga istilah tersebut dengan sembarangan. Pertimbangkanlah konteks yang tepat dan bijaklah dalam memilih ketiga istilah tersebut yang kerap memicu polemik.

Pencegahan Paham Radikal, Aksi Ekstrem dan Teror

Radikalisasi merupakan sebuah proses mendoktrin individu atau kelompok untuk memiliki pemahaman radikal untuk selanjutnya membuat penganutnya bersikap ekstrem. Hal ini dilakukan untuk memecah suatu kelompok dari kelompok asalnya. Orang-orang yang sudah teradikalisasi bisa saja melakukan hal-hal berupa kekerasan demi mencapai tujuan kelompoknya, yang menurut UU Nomor 15 Tahun 2003 dianggap sebagai terorisme.

Masalah ini tidak bisa diserahkan hanya kepada pemerintah, melainkan masyarakat harus ikut andil untuk mencegah dan mengatasinya. Subjek yang paling potensial dalam mengambil peran untuk mencegah dan mengatasi masalah ini adalah para generasi muda sebagai agent of change.

1. Memperkenalkan dan menanamkan ilmu pengetahuan yang baik dan benar

Ilmu merupakan pondasi bagi setiap individu. Penanaman ilmu atas agama, persatuan dan toleransi yang baik dan benar akan menciptakan kerangka pemikiran yang seimbang dalam diri. Ilmu-ilmu ini tidak cukup jika hanya diperkenalkan saja, melainkan harus dikokohkan supaya tidak mudah terpengaruh dengan pemahaman yang melenceng.

2. Meminimalisir kesenjangan sosial

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi radikal. Ada faktor yang bersifat internasional, seperti ketidakadilan global; dan faktor dalam diri, seperti merasa dikucilkan dalam masyarakat. Ada juga faktor domestik sebagaimana dicatat oleh BNPT, seperti ketidakadilan, kesejahteraan, pendidikan, pekerjaan, kecewa pada pemerintah, dan sebagainya. Ada pula faktor kultural, contohnya pemahaman agama yang dangkal, ditambah dengan penafsiran agama yang sempit, yang bisa diperparah dengan indoktrinasi ajaran agama yang salah.

Dengan ini, pemerintah harus mampu merangkul medianya untuk menyuarakan kesetaraan, begitu pun masyarakat yang harus berperan secara langsung dalam lingkungan sosialnya untuk tidak membeda-bedakan manusia apapun latar belakangnya.

3. Mendukung dan berperan dalam aksi perdamaian

Tindakan teror muncul dari paham radikal yang sifatnya baru, berbeda dan menyimpang, sehingga menimbulkan pertentangan dan konflik. Kita dapat mencegah hal tersebut terjadi dengan memberikan dukungan terhadap aksi perdamaian yang yang dilakukan oleh Negara maupun organisasi masyarakat.

4. Berperan aktif dalam menentang dan melaporkan radikalisme dan terorisme

Selaku masyarakat, tentu kita tidak memiliki kapasitas dalam mengatasi masalah radikalisme, apalagi sampai terorisme. Jika menyadari hal yang menimbulkan keresahan di lingkungan masyarakat, laporkanlah kepada pihak yang berkapasitas, seperti tokoh masyarakat di lingkungan tersebut. Dengan demikian, tokoh masyarakat dapat mengambil tindakan berdiskusi dengan individu atau kelompok yang dianggap meresahkan, atau melaporkannya kepada pihak yang lebih berkapasitas.

5. Menyaring informasi

Saat ini, mudah sekali memanfaatkan media untuk menyebarkan informasi. Kemudahan tersebut memberikan peluang untuk menyebarkan informasi palsu atau ujaran kebencian dari siapapun dan kepada siapapun. Sangat penting bagi kita untuk tidak mudah percaya, membenarkan, menyalahkan, dan terpengaruh dengan informasi yang belum tentu konkrit.

6. Aktif mensosialisasikan perdamaian demi menentang radikalisme

Sebarkan pemahaman yang benar kepada orang-orang di sekitar tentang radikalisme, ekstremisme dan terorisme, supaya makin banyak orang yang mengerti arti sebenarnya dan memahami bahwa hal tersebut sangat berbahaya. Sosialisasikan juga tentang bahaya, dampak serta cara-cara untuk menghindarinya.

Tentunya mudah bagi kita melakukan tindakan-tindakan pencegahan atas radikalisme yang negatif, hingga melaporkan aksi yang dianggap meresahkan di masyarakat. Sebagai generasi muda yang mudah terpengaruh terhadap pemahaman-pemahaman baru sebagai bentuk eksplorasi ilmu pengetahuan, penting bagi kita belajar dari sumber yang ahli dalam bidangnya. Waspadalah selalu ketika menyadari penyimpangan, dan hindarilah belajar dari sumber yang jelas menyimpang.

0 comments on “CEGAH RADIKALISME HINGGA TERORISME DIMULAI DARI KITAAdd yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.