NAFAS MUDA DALAM NARASI PERDAMAIAN DIGITAL

You young people, full of vigor and vitality, are in the bloom of life, like the sun at eight or nine in the morning. Our hope is placed on you. The world belongs to you. China’s future belongs to you.” – Mao Tse Tung.

Terorisme dalam Indonesia kontemporer – bagaikan kutu putih (Phenacoccus Manihoti) pada tumbuhan mangga hingga anggur. Kehadirannya menyerap cairan-cairan kehidupan pada daun dan pucuk tanaman. Jumlahnya yang komunal mengkerut dan mengerdilkan entitas hidup, bahkan mampu menyebabkan penggundulan inangnya. Selaras dengan itu, terorisme menjadi unsur parasit yang berpotensi dalam kerusakan sosial-nasional.

Terorisme menghadirkan kerusakan fisik maupun mental. Kasus Bom Bali pada 2002 pada contohnya, menghadirkan trauma psikologis dan kerusakan jutaan dollar. Nyatanya, seperti kutu putih yang begitu sulit dibasmi, terorisme pun terus saja menjamur bahkan merebak dalam konteks Indonesia kontemporer. Pada 2021 saja, terdapat setidaknya 370 tersangka terorisme di Tanah Air. Jumlah tersebut meningkat masif hingga 59,48% dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 232 tersangka. Dalam segala prospek pembangunan dan kebutuhan kontemporer, nyatanya terorisme dan ekstremisme masih eksis menjadi masalah hakiki dalam fundamental kebangsaan Indonesia.

Pada taraf inilah, golongan muda dapat secara de facto menunjukkan eksistensinya. Sebelum masuk ke dalam kesatuan sosial-ekonomi, golongan muda erat kaitannya dengan masalah belajar dimana mereka harus menempa diri dahulu sebagai mahasiswa. Pendidikan menyempurnakan kemewahan idealisme dan emosi yang dimiliki pemuda. Onghokham (1985) menuliskan bahwa tanpa edukasi, pemuda dengan idealisme dan emosi tak lebih dari korban zaman. Sebaliknya, edukasi semata akan berarti pelarian dari buta huruf dan kebodohan. Dengan berbagai proses diskursus di kampus, mahasiswa memiliki bekal yang cukup untuk membaca realita, memampukan mereka untuk menawarkan sejumlah peran yang dapat dilakukan.

Dalam tiap periodisasi waktu, berbagai kelompok usia hadir sekaligus dalam lapisan masyarakat. Masing-masing kelompok ini menawarkan keunikan dan kelebihannya. Meski begitu, tak ada yang mampu mengalahkan daya pikat golongan muda, setidaknya bagi Mao Tse-Tung dan Soekarno. Kedua tokoh besar Asia tersebut meletakkan golongan muda sebagai sumber kekuatan dan keberlanjutan revolusinya.

Dengan karakter golongan muda yang begitu kuat, senyatanya mereka memiliki kapasitas lebih dalam keterlibatan sebagai katalis pergerakan – secara khusus, dalam konteks nafas perjuangan melawan intoleransi dan ekstremisme. Karakter tersebut demikian kuat menjadi identitas hingga memperoleh afirmasi positif para tokoh dunia. Melalui modal identitas karakter tersebut, golongan muda pun menjadi aktor vital dalam upaya-upaya perubahan sosial dan toleransi.

Idealisme dan semangat membara menjadi kelebihan yang hanya ditawarkan golongan muda – menjadikan kelompok ini begitu dinamis. Onghokham melanjutkan, dengan dilengkapi pengetahuan dan keprihatinan sosial, golongan muda memiliki potensi besar untuk menjadi kelompok kekuatan otonom dalam melakukan perubahan. Tan Malaka sendiri pernah mengatakan, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.”

Dalam konteks partisipasinya menciptakan pergerakan toleransi dan melawan narasi ektremisme radikal, golongan muda juga didukung dengan bekal dominasi secara demografisnya. Menurut hasil Susenas tahun 2020, perkiraan jumlah pemuda sebesar 64,5 juta jiwa atau hampir seperempat dari total penduduk Indonesia (23,86 persen). Golongan muda pun menjadi populasi terbesar dalam struktur piramida penduduk di Indonesia. Kondisi demikian membuka ruang besar bagi kelompok usia ini untuk dapat bersuara secara masif dengan dukungan kuantitas yang kuat.

Selain memiliki modal secara karakter dan dominasi demografis, golongan muda juga dilengkapi oleh kedekatan/familiarity terhadap media sosial. Survei oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2015-2019 menunjukkan bahwa kelompok usia 15 sampai dengan 24 tahun menjadi kelompok pengguna internet terbanyak di Indonesia pada tahun 2019 dengan mencapai rasio 83,58% dari total seluruh penduduk Indonesia. Sejak 2015, golongan muda secara konstan menjadi pengguna internet terbanyak dengan selisih proporsi kuantitas yang begitu jauh dibandingkan kelompok usia lainnya.

Dalam konteks kontemporer – dimana internet dan media sosial tidak lagi sebatas medium narasi, melainkan juga industri produksi narasi itu sendiri – penguasaan akan internet dan entitas-entitas di dalamnya menjadi kebutuhan penting sebagai modal mewujudkan perubahan dan pergerakan. Kekuatan narasi media sosial secara jelas ditunjukkan oleh para golongan muda Tunisia yang mengonsolidasikan pergerakan nasional untuk demo terhadap Presiden Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali. Melalui media sosial Facebook, Twitter, dan lainnya, para muda Tunia berhasil mengumpukan massa, membangun narasi, bahkan mewujudkan perubahan masif dengan menjatuhkan Presiden Zine El Abidine yang telah berkuasa selama 23 tahun. Pergerakan digital para muda pada 2011 ini kemudian dikenal sebagai Revolusi Media Sosial.

Dengan segala bekal multi-dimensi yang dimiliki, golongan muda patut masuk menunjukkan nafas eksistensinya. Sebagaimana quotes terkenal dari film Spider-Man pada 2002, “from great power comes great responsibility,” golongan muda dengan basis bekal yang kuat bertanggungjawab secara moral untuk menjadi amplifier bagi narasi perdamaian dan perlawanan terhadap terorisme. Pernyataan diri sebagai katalisator perubahan akan menjadi bukti riil dalam menerjemahkan idealisme dan kepedulian melalui keberpihakan pada keselamatan kebangsaan dan multikulturalisme. Kedekatan pada internet dan media sosial menjadi bekal senjata yang sangat kuat. Transisi mentalitas dari konsumen narasi menjadi distribusen atau bahkan produsen narasi internet menjadi kian esensial.

Bagi golongan muda, jadikan perjuangan ini sebagai ritus inisiasi menuju kedewasaan dan nasionalisme. Buat Soekarno, Mao Tse-Tung, dan para tokoh bangsa bangga dengan wasiatnya yang kekal abadi oleh ambisi dan semangat muda mahasiswa. Hidup Pemuda ! Panjang Umur Pergerakan !

Oleh : Josef Christofer Benedict

 

REFERENSI

Annur, C. M. (2022, Januari 1). Kembali Meningkat, Polri Ungkap 370 Tersangka Terorisme di Indonesia Sepanjang 2021. Diambil kembali dari databoks.katadata.co.id: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/03/16/kembali-meningkat-polri-ungkap-370-tersangka-terorisme-di-indonesia-sepanjang-2021

Badan Pusat Statistik. (2020). Proporsi Individu Yang Menggunakan Internet Menurut Kelompok Umur (Persen), 2017-2019. Diambil kembali dari bps.go.id: https://www.bps.go.id/indicator/27/1228/1/proporsi-individu-yang-menggunakan-internet-menurut-kelompok-umur.html

Badan Pusat Statistik. (2020, April 29). Statistik Indonesia 2020. Diambil kembali dari bps.go.id: https://www.bps.go.id/publication/2020/04/29/e9011b3155d45d70823c141f/statistik-indonesia-2020.html

Onghokham. (1985). Angkatan Muda dalam Sejarah dan Politik. Dalam e. a. Farchan Bulkin, Analisa Kekuatan Politik di Indonesia (hal. 111-128). Jakarta: LP3S.

0 comments on “NAFAS MUDA DALAM NARASI PERDAMAIAN DIGITALAdd yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.