BELAJAR DARI SI JALAK HARUPAT

Siapa yang tak kenal sosok pahlawan pada uang kertas pecahan Rp. 20.000? beliau merupakan salah satu pahlawan nasional yang perjuangannya diabadikan menjadi sebuah monumen perjuangan di Lembang, Bandung Utara bernama Manumen Pasir Pahlawan. Ia adalah Otto Iskandardinata atau yang dijuluki Si Jalak Harupat, sebuah perumpamaan dalam bahasa Sunda yang bermakna lincah dan tajam lidahnya seperti burung jalak.

Otto Iskandardinata merupakan putera seorang bangsawan sunda bernama Nataatmadja. Ia lahir di Bandung, 31 Maret 1897 dan wafat di Mauk, Tangerang, Banten pada 20 Desember 1945. Sepanjang hayatnya, ia merupakan sosok terpelajar dan berkarakter pemberani. Hal ini dapat dilihat dari latar belakang Pendidikan Otto Iskandardinata yang merupakan lulusan Holland Inlandsche School (HIS) dan Kweekschool Onderbouw (Sekolah guru bagian pertama) di Bandung. Ia juga merupakan ketua Paguyuban Pasundan yang terkenal dengan kemajuannya pada bidang politik, pendidikan, ekonomi dan sosial.

Pada suatu kesempatan dalam sidang Volksraad (Dewan Rakyat) Otto pernah mengemukakan, “Seperti orang beriman percaya akan adanya Allah, begitulah juga saya percaya akan datangnya kemerdekaan bagi semua negara terjajah, juga bagi Indonesia…”. Bagi Otto, hasrat untuk menjadi bebas itu sudah menjadi sifat dasar manusia. Oleh karena itu, bangsa Indonesia sebagai bangsa terjajah selalu berjuang untuk mencapai kemerdekaannya.

Satu hal yang dapat direnungkan dari sosok Si Jalak Harupat di masa kini adalah berani menyatakan sikap dan kebenaran. Sebagai pemuda dan pemudi yang mengisi kemerdekaan, kita masih berjuang untuk terus mempertahankan keberlangsungan Indonesia di masa mendatang. Melihat situasi sosial ekonomi saat ini yang merupakan dampak Pandemi, tentu kita tak bisa diam saja. Selain terus belajar dan memahami kondisi yang ada, kita harus berupaya menghadirkan solusi lewat gagasan yang konkret dan berani layaknya Otto Iskandardinata pada masanya.

Referensi:

Edi Warsidi, Belajar dari Tokoh Pahlawan, Bandung: Penerbit CV Angkasa, 2018.

Penulis: Siska Irma Diana

0 comments on “BELAJAR DARI SI JALAK HARUPATAdd yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.