Hari Peringatan Bandung Lautan Api

Di sebuah malam, dalam bau arang dan atmosfer mencekam, sebuah ledakan memekakkan telinga terdengar. Sebanyak 1.100 ton mesiu dan persenjataan hancur pada detik itu juga. Para pasukan asing tersebut – pasukan sekutu yang dibonceng NICA – terkejut setengah mati. Bagaimana tidak, ledakan tersebut berasal dari gudang amunisi terbesar Priangan (sekarang Parahyangan). Bagi para pemuda Indonesia, ledakan besar tersebut menjadi tanda selebrasi akan satu hal – Mohammad Toha  berhasil.

Mohammad Toha adalah komandan dari kelompok milisi pejuang di era Perang Kemerdekaan Indonesia bernama Barisan Rakjat Indonesia. Pada 23 Maret 1946, sekitar pukul 21.45 malam, milisi yang dipimpin oleh Toha mendapat perintah dari pimpinan Majelis Pusat Perjuangan Priangan (MP3) untuk menyerang pertahanan Belanda di Dayeuhkolot. Pada pukul 22.30, Toha pun bergerak memimpin pasukannya menyeberangi Sungai Citarum. Segera setelah berhasil menyeberang, sebuah ranjau meledak dan mengejutkan pasukan Belanda. Dengan paha yang tertembak, Toha memerintahkan pasukannya untuk mundur kembali – dengan dia memilih untuk menyelesaikan misi menghancurkan gudang mesiu sendirian. Pukul 00.30 tengah malam, hari telah berganti, ledakan besar menggelegar di langit Dayeuhkolot. Toha berhasil, meski pada akhirnya ia gugur dan tak kembali.

“Penyerangan ini dampaknya nasional karena gudang amunisi itu gudang perbekalan untuk NICA se-Priangan,” jelas Nina Lubis, sejarawan dari Universitas Padjajaran pada (23/03/2019), merujuk pada kota yang sekarang lebih dikenal sebagai Parahyangan. Ia pun melanjutkan, “Jadi, dengan hancurnya gudang itu, tentu pasukan NICA bingung karena amunisinya hancur. Itu yang saya bilang dampak nasional”.

Cerita Mohammad Toha tersebut adalah satu dari sekian cerita besar lainnya yang terjadi pada malam tersebut. Di malam 24 Maret 1946 tersebut, cerita besar lainnya terjadi. Kota Bandung menjadi “lautan api”. Pembakaran besar oleh para pejuang Indonesia menjadi pilihan terbaik dalam perjuangan melawan penjajah. Para pemuda, setelah melalui musyawarah dengan Panglima Divisi III Kolonel AH Nasution, memutuskan untuk membumihanguskan kota Bandung. Peristiwa ini pun dikenal sebagai peristiwa “Bandung Lautan Api”.

Keputusan pembakaran dilakukan setelah pasukan Sekutu yang dibonceng NICA (Belanda) akan kembali masuk. Setelah Jepang menyerah, Sekutu (secara khusus Inggris) berencana membantu Belanda untuk memperoleh kembali daerah Indonesia. Dalam proses masuknya ke Bandung, militer Inggris memberikan ultimatum pada pasukan Indonesia untuk meninggalkan kota hingga radius 11 kilometer. Tujuannya, untuk menjadikan Bandung sebagai basis militer Inggris. Para pejuang, yang sadar akan keterbatasan teknologi militer mereka, memutuskan untuk keluar dari Bandung – dengan meninggalkan kota tersebut dalam kondisi layak huni dan hancur. Pun, pasukan musuh yang masuk tidak dapat dengan segera menggunakan kota tersebut.

Muhammad Toha, dalam usianya yang ke-19, dan para pemuda pejuang lainnya di malam itu menjadi wujud nyata dari partisipasi besar pemuda dalam kitab historis bangsa Indonesia. Karakter heroisme dan pemuda menjadi dua unsur yang begitu koheren, secara khusus dalam periode perjuangan dan awal kemerdekaan. Pemuda Angkatan ’45 menjadi sebuah identitas generasi tersendiri yang menunjukkan roh idealisme pemuda.

Sejarawan dan cendekiawan Indonesia, Ong Hok Ham dalam artikel Angkatan Muda dalam Sejarah dan Politik, menuliskan idealisme menjadi poin utama warisan para pemuda. Melalui faktor inilah, pemuda menghadirkan keistimewaannya. Sebelum masuk ke dalam kesatuan sosial-ekonomi, eksistensi golongan muda erat kaitannya dengan masalah belajar dimana mereka harus menempa diri dahulu sebagai mahasiswa. Pendidikan menyempurnakan kemewahan idealisme dan emosi yang dimiliki pemuda. Ong Hok Ham menuliskan bahwa tanpa edukasi, pemuda dengan idealisme dan emosi tak lebih dari umpan koersi aparat. Sebaliknya, edukasi semata hanya berupa pelarian dari buta huruf dan kebodohan.

Oleh karenanya, belajar dari Angkatan ’45, penting bagi para golongan muda untuk memiliki kepedulian sosial. Dengan berbagai sifat dan kesempatan yang dimiliki, golongan muda memiliki bekal yang cukup untuk membaca realita, memampukan mereka untuk menawarkan peran-peran empiris dan solutif. Idealisme menjadi faktor yang patut dipelihara dalam menyatakan perjuangan golongan muda – baik dalam koridor militeristik, politik, maupun akademik.

Pertanyaannya, siapkah golongan muda abad-21 untuk menjaga karakter historis yang telah diwariskan generasi terdahulunya?

Penulis: Josef Christofer Benedict

0 comments on “Hari Peringatan Bandung Lautan ApiAdd yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.