Kebebasan yang Membatasi

Oleh: Josef Christofer Benedict

Lagi-lagi, kembali terjadi: penyebaran berita bohong. Kali ini, pihak tanpa integritas dan rasa malu tersebut memilih untuk menyebarkan kecemasan tentang adanya chemtrail atau jejak kimia di udara. Narasi palsu yang dibangun adalah bahwa pemerintah melakukan usaha penyebaran virus dan bibit penyakit melalui penyemprotan masif oleh pesawat terbang di daerah Jakarta. Penyesatan tersebut tampak makin lengkap dengan tambahan postingan video berkualitas rendah yang menunjukkan jejak udara pesawat terbang. Hingga tulisan ini diterbitkan, cuitan yang dibuat oleh @YogaswaraWahyu sebagai pelaku tampak masih belum dihapus.

Merespon penyesatan ini, otoritas berwenang seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo), hingga TNI-Angkatan Udara (AU) segera membantah penyesatan chemtrail tersebut (Kompas.com, 2022; CNNIndonesia.com, 2022). Nyatanya, video yang ditunjukkan adalah rekaman jejak condensation trails – sebuah fenomena emisi dari mesin jet pesawat yang bertemu dengan udara pada temperatur dingin di udara. Fenomena ini, pada kemudiannya akan membentuk awan yang tampak seperti jejak pesawat.

Begitu miris melihat bagaimana sebuah cuitan sederhana dan miskin kredibiltas, yang bahkan berasal dari otoritas yang sama sekali tidak kompeten, mampu memberikan pengaruh masif dan kecemasan kolektif yang luas. Bahkan, tiga otoritas nasional (BMKG, Kominfo, dan TNI AU) sampai-sampai harus turun tangan untuk membantah kepalsuan ini. Dalam dunia diskursus kesesatan informasi, produksi menjadi begitu sederhana, distribusi begitu mudah, sementara meluruskannya menjadi begitu kompleks.

Berkaca pada horizon yang lebih luas, kehadiran kebebasan oleh media sosial telah menimbulkan dualisme konsekuensi. Ya, di satu sisi ada kebebasan yang begitu fleksibel. Media sosial telah memberikan ruang bagi para penggunanya untuk berekspresi dengan bebas – mewujudkan liberalisme ekspresi yang seolah tanpa batas. Bahkan, kebebasan ini juga memberikan kapasitas dan kualitas bersuara yang lebih bagi masyarakat umum. Bayangkan, akun @YogaswaraWahyu memiliki kapasitas suara yang begitu masif hingga harus dijawab langsung oleh aktor semacam lembaga TNI AU. Perang diskursus tersebut menjadi perwujudan atas konflik narasi antara lembaga makro-nasional dengan aktor-aktor mikro akar rumput.

Namun di sisi lain, kebebasan ini justru mematikan kebebasan etis lain – akses terhadap informasi kebenaran yang absolut. Manusia kontemporer, telah kehilangan akses bebasnya untuk hanya mendapatkan informasi yang benar. Kehadiran mereka di media sosial sama saja menanggalkan kebebasan dalam memperoleh informasi yang benar, karena begitu manusia terjun dalam dunia digital tersebut, mereka akan segera dihadapkan pada banjir diskursus akan berbagai multi-disiplin topik dengan multi-tafsir kebenaran. Meski begitu, hal ini adalah normal dalam konteks media sosial sebagai ruang publik. Sebagaimana disampaikan Jurgen Habermas, di ruang publik terjadi aliran komunikasi dan sintesis informasi yang bebas (Scott, 2012).

Konsekuensi atas hal ini adalah kondisi kebenaran yang menjadi semakin subtil. Dinding batas realita dengan distopia kebohongan begitu pipih, sangat sulit untuk harus menyaring ribuan informasi mikro palsu yang membanjiri kanal-kenal media sosial. Tantangan akan pencapaian kebenaran menjadi semakin masif. Kepastian kebenaran tak lagi ada, ketika definisi kebenaran mampu diproduksi juga direproduksi secara liar oleh berbagai aktor dan media kepentingan.

Mengenai ini, Forum Mangunwijaya (2016)  menyampaikan bahwa “ruang publik tak ada bedanya lagi dengan pasar”. Para penjaja dan penjual melakukan transaksi informasi. Mereka yang memiliki tingkat audience tinggilah yang memiliki daya jual yang kuat. Daya jual informasi ini, sayangnya tidak dibarengi dengan kualitas, kompetensi, dan kredibilitas. Para penjaja informasi – yang biasanya terdiri dari artis, influencer, vlogger, atau siapapun dengan jumlah pengikut maupun interaction-rate tinggi – menjadi pedagang-pedagang informasi yang memiliki nilai jual tinggi di pasar ruang publik. Media sosial yang bebas, telah memberikan kebebasan yang masif bagi kehadiran otoritas-otoritas baru ini.

Pada akhirnya, jelas begitu sulit bagi manusia kontemporer untuk menghindarkan diri dari segala polemik informasi yang begitu berantakan. Untuk itu, hal pertama yang harus dimiliki adalah kesadaran kritis akan konsekuensi kebebasan yang justru membatasi.

0 comments on “Kebebasan yang MembatasiAdd yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.