Mengenal Rampak Bedug: Musik dan Tarian Religi Khas Banten

Rampak bedug merupakan kesenian daerah khas Provinsi Banten. Kata “rampak” sendiri mengandung arti serempak. Bedug sendiri merupakan alat atau media informasi yang ada di hampir setiap masjid dan digunakan untuk memberi tanda masuknya waktu salat. Jadi rampak bedug adalah kesenian dengan menggunakan banyak bedug yang dibunyikan secara serempak sehingga menghasilkan irama khas yang enak didengar diiringi dengan tari-tarian yang atraktif dan enerjik.

Adapun alat musik yang digunakan untuk mengiringi tarian rampak bedug adalah Wadirta. Wadirta merupakan kesenian khas Jawa yang terdiri dari bedug besar yang berfungsi sebagai bass ketika mengakhiri satu bait syair, ting tir yang terbuat dari batang pohon kelapa yang berfungsi untuk menyelaraskan irama lagu bernuansa spiritual, dan ada antig caram dan anting karam yang terbuat dari pohon jambu yang dililiti kulit kendang yang berfungsi untuk pengiring lagu dan tarian.

Kesenian yang merupakan perpaduan musik tradisional, modern, seni tari juga mengandung unsur religi ini pertama kali dilakukan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri tahun 1950an. Itulah sebabnya sebagai dikenal dengan rampak bedug, kesenian ini juga banyak dikenal sebagai tradisi adu bedug saat bulan Ramadan.

Sejak awal adanya rampak bedug, kesenian ini tidak memiliki aturan baku dan kaku sehingga alur musik dan tarian dapat disesuaikan dengan kreasi pemain. Kesenian ini juga awalnya hanya dimainkan oleh laki-laki, namun seiring perkembangan zaman formasi pemainnya sudah mulai banyak diisi kaum perempuan juga. Busana yang digunakan oleh para pemain adalah pakaian muslim dan muslimah yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dipadupadankan dengan unsur daerah khas Banten.

Pemain laki-laki biasanya menggunakan pakaian model pesilat lengkap dengan sorban khas Banten dengan warna-warni yang menunjukkan kemodernan (bukan hanya hitam putih saja). Sedangkan pemain perempuan biasanya menggunakan pakaian khas tarian tradisional yang cenderung bercorak modern dan religius. Di luarnya biasanya pemain menggunakan kain tanpa dijahit yang bisa dililitkan untuk digunakan sebagai selendang.

Dalam perkembangannya, rampak bedug tidak hanya dimainkan saat bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri saja. Rampak bedug semakin diminati oleh masyarakat dan menjadi kesenian yang memiliki nilai jual. Kesenian ini sering dimainkan secara profesional dan sering kita temui pada acara-acara hajatan seperti khitanan, resepsi pernikahan, juga di hari peringatan baik keagamaan, kedaerahan serta peringatan hari nasional.

Sumber:

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/kesenian-rampak-bedug-dari-banten/

https://indonesia.go.id/ragam/budaya/seni/rampak-bedug-musik-dan-tari-religi-dari-banten

https://pesona-indonesia.info/tari-rampak-bedug/

0 comments on “Mengenal Rampak Bedug: Musik dan Tarian Religi Khas BantenAdd yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *