Rindu Itu Berat, Tapi Tolong Jangan Mudik Dulu

Seperti kata Dilan yang fenomena itu bahwa rindu itu berat, menahan rindu memang berat dan sering kali menyesakkan. Berjumpa dengan orang yang dirindukan menjadi satu-satunya obat paling ampuh. Sayangnya, saat ini, pertemuan seolah menjadi hal paling sulit dan beresiko untuk dilakukan. Itu berarti tidak akan ada pertemuan untuk menjawab kerinduan, hingga waktu yang tidak ditentukan. Jika biasanya bertemu itu mudah, setiap tahun berkumpul bersama keluarga, namun kali ini semua itu sirna. Pandemic menghalangi ratusan rindu yang mengudara untuk tidak lagi berjumpa. Dan saat ini, rindu memang benar-benar terasa sangat berat.

Pemerintah telah mengupayakan berbagai cara untuk mengatasi permasalahan paling berat di negeri ini, yaitu COVID-19. Salah satu cara yang diupayakan adalah pembatasan sosial berskala besar atau PSBB, yang berdampak pada pelarangan untuk mudik bagi siapapun. Demi menekan laju peneybaran wabah COVID-19 ini.

Saat ini Indonesia mengalami peningkatan untuk pasien yang sembuh dari virus COVID-19, it menjadi berita baik bagi kita semua. Namun, bukan berarti kita bisa bebas untuk mengabaikan aturan yang ada. Aturan tetaplah aturan sampai pemerintah secara resmi menghentkan aturan saat ini, tentu jika keadaan sudah kembali membaik dan wabah telah dinyatakan selesai.

Sedih memang, bulan Ramadan tahun ini hadir di tengah pandemic yang memukul hampir seluruh negara di dunia. Banyak tradisi yang hilang karena tidak bisa diakukan, saah satunya adalah mudik. Di Indonesia, mudik adalah tradisi yang wajib dilakukan pada saat bulan Ramadan menjelang Hari Raya Idul Fitri, di mana mereka yang bekerja di kota lain berbondong-bondong untuk pulang ke kampong halaman, dan merayakan Hari Raya bersama keluarga tercinta.

Tahun ini, mudik ditiadakan, transportasi di hentikan, dan pengamanan dilakukan di mana-mana untuk mencegah para pemudik tiba di kampong halamannya. Sebagian orang mungkin merasa kesal, dan tidak sedikit yang nakal untuk memaksa pulang kampong, meski tahu resiko yang akan terjadi, tapi seolah mengabaikan begitu saja.

Hingga, suatu kondisi terjadi di kota tempat saya tinggal. Seseorang dinyatakan positif terjangkit COVID-19, ia baru tiba di rumahnya pada awal bulan Ramadan dari Jakarta, kemudian menjalani isolasi mandiri di rumah, dan dua minggu kemudian dinyatakan positif corona. Sebab ia dinyatakan postif, maka satu keluarga yang tinggal bersama dengannya pun harus menjalani serangkaian tes, dan melakukan isolasi. Belum lagi jika ada di antara mereka yang bersosialisasi dengan keluarga yang lain atau para tetangga, bukankah kemungkinan penyebarannya bisa meluas?

Itu adalah salah satu pelajaran penting, bahwa memang mudik menjadi satu hal yang maat beresiko, kita menggadaikan kondisi kesehatan keluarga yang lainnya. Kita malah menyebabkan penyebaran yang lebih luas. Jika seharusnya kota atau desa tempat kita tinggal tidak kita datangi atau bersih dari para pemudik, bukankah penyebaran tidak semakin meluas.

Oleh karena itu, menjaga dan menahan diri untuk tidak mudik adalah salah satu bentuk dukungan kita agar wabah ini segera usai. Meski memang, sangat diakui bahwa rindu itu berat, tapi untuk kali ini, tolong jangan mudik dulu.

 

Author: Lutfiah

0 comments on “Rindu Itu Berat, Tapi Tolong Jangan Mudik DuluAdd yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *