Memuliakan Jenazah Positif Covid-19

“Dan Allah tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang ajalnya. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” – Q. S. Al-Munafiqun Ayat 11

Kematian merupakan hal yang pasti akan terjadi pada setiap manusia tanpa kita ketahui kapan ia akan datang dan apa penyebabnya. Ia bisa datang kapan saja tanpa permisi dan sebab yang pasti. Dalam ajaran agama Islam, setiap manusia wajib hukumnya untuk memuliakan orang yang sudah meninggal. Hal ini ditunjukkan dengan kewajiban umat muslim untuk mengurus jenazah tersebut. Dari mulai memandikan, mengkafani, menyolatkan hingga menguburkan. Secara hukum Islam, hukum dari pengurusan jenazah ini adalah fardhu kifayah, artinya jika sudah ada perwakilan yang menguruskan, maka yang lain akan gugur kewajibannya.

Di tengah maraknya wabah covid-19, pengurusan jenazah positif covid-19 hanya boleh dilakukan oleh petugas medis yang dilengkapi alat pelindung diri (APD) sesuai dengan protokol yang sudah ditetapkan. Bagi jenazah beragama Islam, tentu pelaksanaan pengurusan jenazah sudah diatur agar tidak berbenturan dengan syariat agama.

Selain itu, setelah dikafani jenazah akan dibungkus rapat dengan kantong plastik yang tidak tembus air, disemprotkan disinfektan serta dimasukkan ke dalam peti kayu dan dilapisi plastik lagi. Hal ini dilakukan untuk memastikan agar tidak ada cairan jenazah yang keluar sehingga tidak menularkan ke orang lain. Pengurusan jenazah covid-19 dibuat sedemikian ketat agar tidak menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.

Berikut protokol pengurusan jenazah positif covid-19:

  • Pengurusan jenazah hanya boleh dilakukan oleh pihak dinas kesehatan secara resmi yang sudah ditunjuk, seperti rumah sakit tempat meninggalnya pasien.
  • Jenazah korban COVID-19 ditutup dengan kain kafan atau bahan yang terbuat dari plastik yang mampu menahan air, juga dapat pula ditutup dengan bahan kayu atau bahan lain yang tidak mudah tercemar.
  • Apabila jenazah sudah dikafani atau dalam kondisi terbungkus, maka petugas dilarang untuk membuka kembali. Kafan jenazah dapat dibuka kembali dalam keadaan mendesak seperti autopsi, dan hanya dapat dilakukan petugas.
  • Jenazah disemayamkan tidak lebih dari 4 jam.

Adapun protokol penguburannya sebagai berikut:

  • Lokasi penguburan mesti berjarak setidaknya 50 meter dari sumber air tanah yang digunakan untuk minum.
  • Lokasi penguburan juga harus berjarak setidaknya 500 meter dari pemukiman terdekat. Jenazah harus dikubur pada kedalaman 1,5 meter lalu ditutup dengan tanah setinggi satu meter.
  • Setelah semua prosedur jenazah dilaksanakan dengan baik, maka pihak keluarga dapat turut dalam penguburan jenazah.

Sayangnya, dalam beberapa kasus di Indonesia penguburan jenazah positif covid-19 justru mendapat penolakan dari masyarakat. Terlebih ada jenazah yang bahkan sudah dikuburkan terpaksa harus digali kembali karna menuai protes dari masyarakat. Hal ini bukan hanya merepotkan petugas, namun juga jauh dari ajaran agama Islam sebab Rasulullah SAW memerintahkan untuk menyegerakan penguburan jenazah. Selain itu penolakan pemakanaman juga tentunya menambah duka keluarga yang ditinggalkan.

Padahal, covid19 seperti virus pada umumnya, dimana ia membutuhkan inang untuk tetap hidup. Sehingga ketika inangnya meninggal, ia juga akan ikut mati. Dilansir dari detik.com, Kepala Departemen dan SMF Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD dr Soetomo Surabaya dr Edy Suryanto menuturkan bahwa virus yang menempel di pasien positif covid-19 akan hilag 7 jam setelah pasien tersebut meninggal.

Penolakan penguburan ini menimbulkan banyak perhatian dari banyak masyarakat. Dai kondang Aa Gym menuturkan bahwa penghormatan kepada jenazah sangar dianjurkan. Masyarakat tidak perlu memberikan stigma kepada jenazah positif covid-19 selama pengurusan dan penguburan jenazah sesuai dengan protokol dan syariat agama.

Selain itu, Ust. Aam Amirudin, pembina Yayasan Dakwah Percikan Iman juga mengajak masyarakat untuk meringankan saudaranya yang terkena musibah kematian akibat covid-19, yakni dengan menerima dimakamkan di tempat pemakaman sebab jika dilakukan sesuai dengan protokol keselamatan tidak akan membahayakan kehidupan masyarakat.

Dalam juga dijelaskan bahwa pemakaman jenazah harus disegerakan. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

أَسْرِعُوْا بِالْجَنَازَةِ, فَإِنْ تَكُنْ صَالِحَةً فَخَيْرٌ تُقَدِّمُوْنَهَا عَلَيْهِ, وَإِنْ تكُنْ غَيْرَذَلِكَ فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكمْ

Segerakanlah pemakaman jenazah. Jika ia termasuk orang-orang yang berbuat kebaikan maka kalian telah menyajikan kebaikan kepadanya. Dan jika ia bukan termasuk orang yang berbuat kebaikan maka kalian telah melepaskan kejelekan dari pundak-pundak kalian.”

Maka dari itu, penting bagi kita untuk memahami protokol keselamatan dalam situasi pandemi ini. Jangan sampai karna terlalu tinggi kewaspadaan hingga timbul ketakutan yang berlebihan dan membuat kita melupakan kemanusiaan dan perasaan keluarga yang ditinggalkan.

Sumber :

https://republika.co.id/berita/q8767f318/menolak-jenazah-terinfeksi-covid19-dimana-nuranimu

https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4959524/virus-corona-di-tubuh-akan-mati-setelah-7-jam-pasien-meninggal

https://www.inilahkoran.com/berita/47579/sejumlah-ustaz-pastikan-aman-tak-ada-alasan-tolak-pemakaman-jenazah-covid-19
https://pikobar.jabarprov.go.id/articles/aa-gym-ajak-masyarakat-muliakan-jenazah-covid-19-artcl.k8jzulr9kndq4d62z8w/

https://muslim.or.id/25051-fikih-jenazah-3-hal-hal-yang-disyariatkan-terhadap-orang-yang-baru-meninggal-dunia.html

https://tirto.id/eKo3 

0 comments on “Memuliakan Jenazah Positif Covid-19Add yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *