Permainan Tradisional Banten Tangkal Radikalisme

Sebelum berbicara bagaimana menangkal radikalisme di Indonesia ada baiknya kita mengetahui arti dari radikalisme sendiri. Dalam KBBI radikalisme diartikan sebagai paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Negara Indonsiapun tak luput dari paham radikalisme ini. Berbagai macam gerakan radikalisme agama yang dilakukan oleh gerakan islam garis keraspun bermunculan di Indonesia. Gerakan ini telah muncul pada masa kemerdekaan, bahkan dapat dikatakan sebagai akar gerakan Islam garis keras era Reformasi. Gerakan yang dimaksud adalah DI/TII (Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia) dan Negara Islam Indoensia (NII) yang muncul era 1950-an. Gerakan ini disatukan oleh visi misi untuk menjadikan syariat sebagai dasar negara Indonesia.

Pada tahun 2015 Survey Setara Institue terhadap siswa dari 114 Sekolah Menengah Umum (SMU) di Jakarta dan Bandung. Dalam survei ini, sebanyak 75,3% mengaku tahu tentang ISIS. Sebanyak 36.2% responden mengatakan ISIS sebagai kelompok teror yang sadis. 30,2% responden menilai pelaku kekerasan yang mengatasnamakan agama, dan 16.9% menyatakan ISIS adalah pejuang-pejuang yang hendak mendirikan agama silam. 16.9% ini bisa dikatakan calon-calon yang akan memperjuangkan paham radikal. Ini yang seharusnya menjadi perhatian kita. Bagaimana memberikan pemahaman bagi 16,9 % ini tentang radikalisme dan tetap menjaga sisa persentasi yang menganggap bahwa ISII adalah tindakan radikalisme.

Selain itu dilansir dalam cnnindonesia.com pada tahun 2017 Wahid Institute melakukan survei mengenai radikalisme dan intoleransi pada 1.520 responden dengan metode multi stage random sampling. Di dapatkan hasil sebanyak 0,4% penduduk Indonesia pernah bertindak sebagai radikal dan 7,7% mau bertindak radikal kalau memungkinkan. Miris bukan? Lantas bagaimana kita dapat mengurangi tindak radikalisme di Indonesia? Mungkin salah satu cara yang bisa kita terapkan dengan menerapkan kearifan lokal yagn berada di daerah kita masing-masing. Kearifan lokal sejatinya merupakan modal berharga dalam menolak kekerasan, radikalisme dan terorisme.

Banten, sebagai provinsi termuda di Indonesia yang beridiri pada tahun 2000pun memiliki kearifan lokal yang sangat banyak. Sebut saja Debus, Rudad, Umbruk, Tari Topeng dan masih banyak lagi. Permainan tradisionalpun takluput menjadi bagian dari kearifan lokal budaya banten seperti Gobak Sodor. Gobak Sodor sendiri permainan khas banten yang perlahan mulai ditinggali oleh masyarakat. Padahal permainan ini memiliki nilai-nilai yang bisa ditanamkan dalam diri anak-anak dan menjadi tindak dini penangkal radikalisme.

Nilai- nilai yang terkandung dalam permainan ini seperti Jujur, Bertanggung Jawab, Berifikir logis, kreatif dan inovatif. Permainan gobak sodor ini merangsang aktivitas berfikir menentukkan strategi menerobos garis penjagan lawan. Selain itu nilai terhadap sesama seperti patuh pada aturan sosial, menghargai karya dan prestasi orang lain dalam hal ini kemenangan dari tim lawan dan demokratis dalam menentukkan anggota kelompok. Nilai nasionalispun dapat ditanamkan, karena dengan memainkan permainan tradisional seperti gobak sodor anak-anak ikut melestarikan kebudayaan bangsa.

Penulis : Jinan V.B.

0 comments on “Permainan Tradisional Banten Tangkal RadikalismeAdd yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *