Wajah Baru Pendidikan Karakter Melalui Media Sosial

Pendidikan merupakan hal terpenting dalam segmentasi kehidupan dimasyarakat. Kebanyakan dari kita berfikir bahwa pendidikan itu berorientasi hanya pada nilai akademis saja. Nilai akademis dianggap penting sekali dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi sesungguhnya pendidikan karakterpun menjadi salah satu instrumen terpenting didalam berkehidupan masyarakat. Apalagi pendidikan karakter di era milenial ini. Sering kita lihat video viral mengenai murid yang berani berlaku kasar, memberontak, dan tidak patuh kepada gurunya.

 Video-video itu membuat kita yang menyaksikan secara tidak sadar mengelus dada dan prihatin kepada kejadian tersebut. Tetapi apakah cukup dengan melihat dan ikut prihatin saja? Sebagai generasi penerus bangsa selayaknya kita ikut memberikan solusi dan tanggapan atas kejadian tersebut.. Apakah ada yang salah dalam sistem pendidikan kita? Atau bagaimanakah sebaiknya kita memberikan pendidikan karakter untuk generasi milenial saat ini?

Sebelum kita membahas mengenai sistem pendidikan dan solusi untuk memberikan pendidikan karakter pada generasi milenial, ada baiknya kita mengetahui apa itu generasi milenial? Menurut para peneliti sosial generasi Y atau millenials ini lahir pada rentang tahun 1980an hingga 2000. Dengan kata lain, generasi milenial ini adalah anak-anak muda yang saat ini berusia antara 15-35 tahun. Salah satu ciri khas paling utama ialah generasi milenial tidak lepas dengan gawai atau gadget. Dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat dan adanya internet gawai atau gadget menjadi barang terpenting dalam kehidupan. Sempat mendengar jokes lebih baik ketinggalan dompet dari pada gadget? Sebegitu pentingnya sebuah gadget di era jaman now dan bagi generasi milenial ini.

Pendidikan karakter dapat tumbuh dari tiga lingkungan terpenting dalam kehidupan yaitu keluarga, sekolah dan lingkungan sekitar. Tetapi bagi saya untuk generasi milenial saat ini karakter seseorang dapat timbul dari media sosial. Media sosial yang lekat dengan generasi milenial dapat menumbuhkan karakter tertentu bagi penggunanya. Sebagai contoh ketika kita memfollow selebgram atau selebyoutube dan secara tidak langsung dapat memberikan impact pada kehidupan kita. Generasi milenial yang berada pada umur 15 tahun yang sedang mencari jati diri kemungkinan besar meniru public figur kesukaan mereka, entah itu perilaku baik atau buruk. Fenomena awkarin dahulu mungkin bisa menjadi contoh kecil. Banyak anak dibawah umur yang mengikuti gaya kehidupan awkarin dan dijadikan tren dikalangan anak muda yang menjadikan awkarin public figur.

Dikutip dari artikel opini yang saya baca di kompasiana yang berjudul “ Peranan media sosial dalam membentuk karakteristik generasi muda” karya Anshar Tawaulu sejatinya pengguna media sosial untuk kalangan remaja tak kalah besarnya, dengan angka 23,8 juta jiwa atau 18% persen dari penduduk Indonesia. Dengan kata remaja sebanyak 23,8 juta di Indonesia aktif menggunakan jasa internet yang dapat berdampak positif maupun negatif. Dengan internet kita bisa mendapatkan berbagai informasi dengan mudahnya. Namun, bila ternyata kita sendiri sebagai pengguna tidak dapat memfilter informasi yang kita terima dengan benar maka akan menjadi boomerang untuk diri kita sendiri.

Pentingnya untuk sering membaca kembali, mencari lebih lanjut tentang keaslian suatu informasi penting dilakukan. Terlebih beredarnya HOAX yang semakin merajalela di media sosial, isu-isu radikal yang gencar di lakukanpun menjadi salah satu keresahan yang akan berujung pada tindakan kekerasan atau bisa jadi tindak terorisme.

Lantas bagaimana solusi yang dapat ditawarkan untuk pendidikan karakter bagi generasi milenial saat ini? Keluarga menjadi salah satu faktor terbentuknya sebuah karakter seseorang. Orang tua sejak dini harus memberikan contoh mengenai perilaku yang baik dan buruk sekaligus memberitahu sanksi yang didapat jika melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan norma. Selain itu orang tuapun harus mengikuti perkembangan zaman yang ada, tidak bisa menggunakan cara seperti dahulu dengan generasi milenial. Orang tua harus mengikuti perkembangan zaman agar dapat memantau kehidupan anaknya dan perubahaan kehidupan saat ini yang pesat melalui media sosial maupun internet. Penggunaan bahasa yang lebih santai dan tidak bertele-bertele dapat menjadi salah satu solusi dalam memberikan pengajaran terhadap generasi milenial.

Untuk pendidikan karakter disekolah diharapkan tetap menjadikan mata pelajaran seperti PPKN tetap ada dalam kurikulum agar menjadi ilmu yang dapat diterapkan dikehidupan sesuai dengan norma yang berlaku. Sehingga kasus seperti viral video murid tidak patuh bahkan semena-mena terhadap guru tidak terjadi kembali. Begitupun dengan pendidikan di lingkungan sekitar sebagai generasi milenial kita harus dapat memilih, memfilter lingkungan yang bisa menjadikan pribadi yang lebih baik, bermoral, beradab dan sesuai dengan norma yang berlaku dalam berkehidupan.

Akhir kata, pendidikan akademis memang sangat penting bagi kehidupan. Tetapi jika kita tidak memperkuat pendidikan karakter untuk generasi saat ini, mungkinkan ada generasi yang sesuai norma dikemudian hari?

Penulis : Jinan Vania B

0 comments on “Wajah Baru Pendidikan Karakter Melalui Media SosialAdd yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *