Filosofi Stoa

Dari Filosofi Stoa Kita Belajar Untuk Berdamai Dengan Keadaan

Sudahkah kamu berdamai dengan keadaan saat ini? Dengan memahami filosofi stoa atau filosofi teras, dapat membantu kita untuk lebih damai menjalani hari-hari yang sulit.

Adanya pandemi virus corona, gagal menikah, gagal traveling, maraknya informasi yang simpang siur, adanya aturan karantina dari pemerintah, investasi anjlok, tidak adanya shalat tarawih berjamaah, tidak bisa buka puasa bersama, tidak bisa pergi kemana-mana, kehilangan pekerjaan, perkuliahan yang tidak nyaman, seringkali merasa jenuh dan bosan, tidak bisa pulang ke kampung halaman dan merayakan lebaran bersama keluarga tercinta.

Jika dirunut lagi akan lebih banyak hal yang tidak mengenakkan di saat seperti ini, membuat kita jadi stress, marah, kesal, sedih, kecewa, bahkan merasa putus asa. Lalu mulai bertanya-tanya, mengapa semua ini harus terjadi? Kapan semua ini akan berakhir? Kenapa rasanya tidak adil sekali? Sampai kapan? Semua pertanyaan-pertanyaan yang nampaknya cukup untuk menambah keresahan dan ketidakbahagiaan.

Kemudian, mulai banyak praktisi psikologi yang menyerukan untuk menjaga kesehatan mental, dengan bermeditasi, berteman dengan keheningan untuk refleksi diri, dan lainnya. semua itu bertujuan untuk membantu kita mengurangi emosi-emosi negatif yang berlebih yang berdampak pada kesehatan mental, yang akibatnya tentu sangat panjang kedepannya.

Dalam kehidupan ini ada satu hal yang harus semua manusia pahami, bahwa tidak semua hal yang terjadi di dunia ini, di dalam kehidupan kita bisa kita control, banyak hal yang bisa terjadi di luar jangkauan kita, di luar control kita, salah satunya terjadinya pandemic ini. Kita tidak bisa mengatur untuk tidak terjadi.

Hal ini selaras dengan kalimar dari Epictetus dalam Enchiridion, “Some things are up to us, some things are not up to us

“Ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tidak tergantung pada) kita” (Manampiring, Filosofi Teras, 2019). Yang menjadi salah satu inti pemikiran dari filosofi Stoa.

Filosofi Stoa mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa datang dari “things we can control”, hal-hal yang di bawah kendali kita. Sebaliknya, kita tidak bisa menggantungkan kebahagiaan dan kedamaian sejati kepada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan (Manampiring, 2019).

Filosofi Teras

Menurut filosofi ini hal-hal yang tidak di bawah kendali kita di antaranya adalah: Opini orang lain, kesehatan kita, kekayaan kita, kondisi saat kita lahir, tindakan orang lain (kecuali dia berada di bawah ancaman kita), popularitas kita, segala sesuatu di luar pikiran dan tindakan kita, seperti cuaca, bencana alam, wabah, harga saham, nilai tukar rupiah, kondisi ekonomi dan lainnya.

Kemudian hal apa saja yang ada di bawah kendali kita? Yaitu: pertimbangan, opini atau persepsi kita, keinginan kita, tujuan kita, dan segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita sendiri.

Artinya, jika kita hanya bisa dan hanya terus menerus merasa bahagia dengan hal-hal yang ada di uar kendali kita, hal ini sama saja dengan menyerahkan kebahagiaan dan kedamaian hidup kita ke pihak atau orang lain. Salah satunya, kita menjadi tidak bahagia bahkan menjadi stress ketika ada aturan untuk karantina sehingga kita tidak bisa bepergian, kita menjadi tidak bahagia ketika kondisi ekonomi menurun, kita menjadi tidak bahagia saat tidak bisa pulang ke rumah. Padahal, kita tetap bisa merasa bahagia dan merasa damai dalam kondisi apapun jika kita mengandalkan hal-hal yang ada di bawah kendali kita.

Seperti yang ditulis dalam buku Filosofi teras karya Henry Manampiring bahwa di dalam situasi yang paling menyakitkan dan tidak manusiawi, hidup masih bisa memiliki makna, dan karenanya, penderitaan pun dapat bermakna. Kita memang tidak bisa memilih situasi yang terjadi pada kita, tetapi kita selalu bisa menentukan sikap kita atas situasi yang sedang di alami.

Dapat dikatakan bahwa, sikap atau respon kita terhadap apapun yang kita alami lah yang menentukan apa yang kita rasakan. Bukan untuk pasrah akan keadaan, karena sekali lagi keadaan yang terjadi di luar kendali kita, tetapi kita bisa memilih mau bersikap seperti apa untuk menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan. Salah satunya kita bisa memilih untuk berbagi walaupun kita sendiri tengah mengalami kesulitan. Sehingga hal ini membuat kita tidak terus menerus terkungkung oleh emosi negatif, yang sama sekali tidak berguna.

Pandemi virus corona yang terjadi dan berbagai hal yang menjadi dampaknya, tentu saja semua itu di luar kendali kita, kita tidak bisa menolaknya untuk tidak terjadi, dan yang bisa kita lakukan adalah menentukan sikap untuk menghadapi dan menjalani kenyataan yang ada. Apakah kita akan berdamai dengan keadaan dan menciptakan makna bagi diri kita sendiri? atau malah tetap terus menyalahkan keadaan dan membuat diri merasa semakin terpuruk?

 

0 comments on “Dari Filosofi Stoa Kita Belajar Untuk Berdamai Dengan KeadaanAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Hai Sobat Damai ?