Menciptakan Perdamaian Dengan Mengelola Perbedaan Cara Pandang

Indonesia merupakan salah satu negara role model atas perbedaan suku agama ras dan budaya (SARA) di dunia. Maka tak heran, Bhineka Tunggal Ika yang merupakan semboyan bangsa ini menjadi tali pengikat atas perbedaan-perbedaan yang ada. Karena dengan perbedaan itulah, kehidupan berbangsa kita menjadi berwarna dan menarik untuk dipelajari.

Perlu kita ingat kembali bahwa dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945, termuat cita-cita bangsa Indonesia yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Inilah pedoman berbangsa yang diwariskan oleh para pejuang kemerdekaan kala itu, bahwa ketertiban dunia tidak akan terwujud tanpa adanya kemerdekaan, perdamaian dan keadilan. Perdamaian menjadi salah satu unsur penting dalam harmonisasi kehidupan. Sebab perdamaian berarti penghentian permusuhan, pertikaian maupun perdebatan yang dapat memicu perpecahan.

Dewasa ini, perbedaan di negara ini rupanya tak berhenti pada pusaran isu SARA namun lebih meluas pada perbedaan cara pandang terhadap suatu permasalahan. Betapa tidak, kemudahan mengakses teknologi informasi membuat siapa saja bisa mengemukakan pendapatnya yang beragam bahkan bertolak belakang tanpa tebang pilih. Di sinilah filteriasi menjadi penting untuk mencegah perpecahan merambah dan membudaya.

Filterisasi untuk menyikapi permasalahan dalam perbedaan bukanlah hal yang sepele dan mudah dilakukan. Dibutuhkan intelektual tinggi serta tingkatan pemahaman moral yang lebih untuk mencapainya dan menjadikannya untuk tidak sekedar diketahui tapi juga dimengerti.

Sebuah tipologi yang dikembangkan oleh Kohlberg mengenai tingkat perkembangan moral kognitif, bahwa rasa penerimaan manusia terhadap perbedaan sebagai prinsip moral universal adalah pada tingkat postconventional, yaitu pada level tertinggi. Sementara menurutĀ  penemu teory multiple intelligences, Howard Gardner dalam bukunya Five Minds for the Future, menyimpulkan bahwa kesadaran dan penghargaan terhadap perbedaan (respectful mind) adalah kemampuan pikir yang tidak gampang dan menjadi peran pentingĀ  untuk masa depan, selain disciplined mind, synthesizing mind,creating mind dan ethical mind.

Oleh karena itu, kesadaran akan perbedaan begitu penting namun yang tidak kalah penting adalah cara kita menyikapi perbedaan agar tidak mengundang konflik berkepanjangan. Perbedaan cara pandang adalah keniscayaan, tugas kitalah untuk meredam agar tidak bersitegang.

Penulis : Siska Irma Diana

0 comments on “Menciptakan Perdamaian Dengan Mengelola Perbedaan Cara PandangAdd yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.