George Floyd dan Rasisme Papua

Masih membekas luka lama tentang kematian George Floyd yang memantik kemarahan warga dunia. Gelombang protes muncul dimana-mana. Mereka menuntut agar aparat bersikap lebih adil dan tidak rasis terhadap orang sipil.

Floyd, seorang pria berkulit hitam berusia 46 tahun ditangkap polisi Minneapolis karena dianggap membeli rokok dengan uang palsu. Polisi menempatkan lutut kirinya di antara kepala dan leher Floyd. Ia meminta tolong dan mengatakan tak bisa bernapas. Tapi polisi tersebut terus berdiri sepanjang delapan menit 46 detik. Hasilnya, Floyd meninggal satu jam setelah kejadian.

Rupanya, rasisme bukanlah hal baru di Indonesia untuk masalah orang kulit hitam. Pada 16 Agustus 2019 lalu, personel TNI menggedor gerbang asrama Papua di Surabaya. Alasannya mereka melihat bendera Merah Putih yang dipasang pemerintah Kota Surabaya jatuh ke selokan. Satpol PP pun berdatangan dan mengepung asrama Papua itu selama 24 jam. Esoknya, 43 mahasiswa yang ditangkap itu dibebaskan lantaran tak memiliki bukti yang kuat.

Pada 19 Agustus 2019 lalu, dua hari setelah perayaan kemerdekaan ke-74, kelompok orang Papua menumpahkan kekecewaanya di tanah Jayapura, Manokwari, serta Kota Sorong. Lautan manusia berdemo sepanjang 18 km dengan berjalan kaki. Mereka menuntut rasialisme orang Papua segera dihentikan.

Jika dikaji lebih jauh, memang ada kemiripan antara kasus George Floyd dan beberapa kasus rasisme di Papua. Selama ini masyarakat sering menganggap orang Papua sebagai monyet, hitam, terbelakang, tidak maju, kotor, dan bau. Jika persepsi ini tidak dihentikan, maka akan terus bermunculan kasus-kasus baru seperti George Floyd.

Pada dasarnya kasus rasisme di Indonesia harus segera diperangi, agar tidak terjadi kasus serupa seperti yang terjadi pada George Floyd. Akan tetapi, sebagai masyarakat kita perlu bijaksana dan tidak terprovokasi dalam melihat kasus rasisme yang ada di Indonesia. Sebab, tidak jarang terdapat pihak lain yang menggunakan isu rasisme sebagai alat untuk menguntungkan diri maupun kelompoknya sendiri.

Penulis: Siti Heni Rohamna

0 comments on “George Floyd dan Rasisme PapuaAdd yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *