Balada Mudik Kang Suro : Mudik Membawa Petaka

Breemm…. Suara mobil tengan berlalu dari rumah kontrakan sempit di kota yang sumpek peduduk, suara-suara burung pun sepertinya kurang terdengar merdu kecuali suara burung piaran tetangga kang Suro, Pria berkumis tipis yang selalu menggunakan ikat Baduy ini sangat garang jika orang lain baru melihatnya pertama kali, tapi bagi Duma pemuda cerdas yang kenal dengan Kang Suro malah melihatnya sebagai orang polos, luguh dan baik, dibalik itu Duma selalu menjadi temannya ngobrol.

Entah sudah berapa hari Kang Suro dan Duma diam dirumah Kontrakannya, mereka berdua tengah menjajal tinggal di Kota besar, iya, mereka baru datang di bulan Febuari lalu, mereka membuat toko madu khas Baduy,  biasanya Kang Suro menjajakannya secara keliling dari rumah ke rumah, karena mengikuti saran dari Duma, yang pandai memasarkan barang dagannya melalui Internet akhirnya mereka berdua membuat toko di Kota Besar tersebut, karena banyak Orderannya yang datang dari kota itu.

Namun akhir-akhir ini tokonya sepi, dan orderan dari intenet pun lesu, karena kebanyakan warga lebih memilih membeli bahan-bahan pokok dimasa Pandemi.

“weeeeh, sepi amat kien toko’ne (tokonya sepi amat)” Ujar Kang Suro mengeluh “premen lamun ning IG wakeh teh sing tuku (bagaimana kalo penjualan di IG)” Tannya ke Duma

“Lake kang, premen ya ? (Tidak ada juga kang, Gimana ya?)” Jawab Duma,

“siremeh wong ditakon malah nakon balik.(Kamu mah orang nanya malah nanya balik)” Ujar Kang Suro Marah

Kang Suro bingung, apa lagi kontrakan toko dan rumah harus di bayar 1 minggu lagi, lalu kang Suro mengambil gawainya karena ada suara pesan masuk,

“Kang, anak enjaluk Jajan bae, kakang lake peces teh? Transfer mah limang jute, gunah jajan anak keh,.” Pesan Saunah Istrinya Kang Suro.

Kang Suro tambah pusing melihat hal tersebut, tapi Duma masih terus fokus melihat gawainnya seperti mencari cara untuk tetap bertahan di rumah tersebut, karena banyak sekali larangan untuk beraktivitas di luar, terutama pulang kampung saat seperti ini pun tidak memungkinkan. Namun pikiran Kang Suri berbeda.

“kayne kite balik bae lah, kan kon ning umah bae, amun kien kan udu umah kite. Wies lah balik bae” Ujar Kang Suro dalam hati

“wong, Kang Suro mesem-mesem bae, klemen kuen” Duma menaggetkan lamunan Kang Suro

“Duma, Kite mah arep balik bae lah, pualeng edase.” Ujar Kang Suro

“weh, ore oleh balik Kang Suro, wong kon ning umah bae jing.” Duma melarang

“mangkane kuen, kite pengen balik ning umah. Kan kien mah udu umah kite umah kite kan ning Serang.”

“Aye Guste kang Suro ore paham amat sih, sing dimaksud umah kuen yaah, yaa iki umah, uduh umah Kang Suro sing ning Serang.” Duma menjelaskan

“kien kan udu umah kite, Premen sih, wes lah bodo amat, kite arep balek, mengku ning umah bae, paleng lake peces.” Kang Suro tetap pada pendiriannya ingin pulang kerumahnya yang ada di Serang.

“nah, amun Kang Suro arep peces kite ane solusine keh, premen amun dagangane ganti jadi masker kain?” Duma memberikan solusi

“lah rued maning, Duma, dagang madu be gati, premen dagang masker. Pokokne mah kite tetep pengen balik.” Kang Suro masih kekeh

Duma mengelus dadanya. Iya, begini lah sifat asli Kang Suro keras kepala dan tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya, Saat Duma akan menjelaskan kenapa dilarang mudik, Kang Suro langsung memotong.

“Jadi Mengkenen Kang Suro……”

“wes meneng lah, lagi paleng, siap siap keh gage, sedela maning arep buka.” Potong Kang Suro

Toko pun di tutup dan mereka kembali kerumah kontrakannya, suara adzan Magrib berkumandangan, mereka berdua berbuka puasa. dari buka puasa sampai mereka tidur Kang Suro tidak berbicara apa-apa sama Duma, lalu jam 02.00 Dini hari suara berisik membangunkan Duma, ternyata Kang Suro memberekan baju-bajunya, saat di tahan sama Duma, Kang Suro tetap pergi.

Brak !. Suara pintu yang dibanting Kang Suro, lalu dia berjalan sedirian menuju jalan besar. Duma di dalam bingung, ngejar Kang Suro pun sepertinya percuma, tapi Duma yakin Kang Suro akan balik lagi ke Kontraknya karena akses Jalan Tol di tutup,

“eleeeh bocah kuen koh gawe kite paleng bae, wong jereh pemerintah kon ning umah bae, kite melu keh anjuran pemerintah, arep balek ning umah kite dewek.” Ocehnya saat jalan menuju jalan besar.

Wussst ! suara mobil kencang melaju, Kang Suro bingung tidak ada Bus satu pun yang ada, hanya mobil-mobil truk besar pengangkut barang-barang berat, namun tidak sengaja, Kang Suro melihat 6 orang yang akan pulang kampung juga naik truk besar, akhirnya Kang Suro berlalu menuju ke 6 orang tersebut.

“Tunggu…tunggu…” Teriak Kang Suro

“kenapa Pak?” salah satu dari 6 orang bertanya

“Pade areng ning endi, eh Pada mau kemana ?” Ujar Kang Suro terengah-engah.

“mau ke Merak.” Ujar Si Baju merah.

“Oh Alhamdulilah kalo gitu, boleh saya ikut ke Merak ya, kebetulan saya di Serang,” Ujar Kang Suro Bahagia.

“woy cepet naik, jadi pulang engga nih.” Triak supir Truk

“Kang, saya ikut yaa.” Ujar Kang Suro

“bayar 200 Ribu sini” ujar supir Truk

“Allah, malah amat kang, 100 ribu aja yaa.” Tawar kang Suro

“yasudah mana sini.”

Kang Suro pun senang karena akhirnya bisa mudik walaupun naik mobil truk, yang berisi kerupuk. Perjalanannya sangat mulus karena lewat tol, mobil truk tersebut bisa lolos karena dianggap mobil logistik, Kang Suro Ketiduran, dan tidak tahu dia sampe mana.

Lalu Kang Suro bangun karena dikasih kode untuk ngumpet diselah-selah kerupuk, mobil truk tersebut tengah di cek oleh Polisi, karena polisi merasa curiga, dengan isi truk tersebut, seperti truknya kelebihan muatan.

“wah apa-apaan ini, truk isinya orang.” Polisi memergogi Kang Suro dan 6 orang lainnya

“hayo cepet keluar !” Polisi tegas untuk menyuruh mereka keluar

“aduh mang lisi, santai mang.” Ujar Kang Suro

Kang Suro pun keluar secara tepkasa keluar dari sana, Kang Suro masuk ke pos pam lalu di antarkan ke Kantor Polisi terdekat, Kang Suro di tahan di Kantor Polisi karena maksa untuk mudik ke kampung halaman.

“Mang Lisi, saya mau pulang ke Serang, Bentar lagi sampe ko.” Ujar Kang Suro

“kamu dari mana ?” Polisi menanya

“Jakarta Mang Lisi.” Kang Suro Menjawab.

“Waduh, kayanya bapak sementra ini harus tetap disini. Karena Bapak dari daerah zona merah,.” Polisi menjelaskan.

“ya Allah Pak, kan saya pengen ketemu istri dan anak saya.”

“Bapak sayang tidak dengan Istri dan anak bapak.” Tanya Polisi

“Sayang atuh Mang Lisi.”

“kalo bapak sayang, bapak sementara di singgah disini dulu, karena takut bapak membawa Covid-19, kalo bapak tetap maksa untuk pulang makan akan kami tahan.” Tegas Polisi.

Kang Suro pun mengikuti penjelasan polisi karena takut ditahan lebih lama lagi kantor polisi. Ini lah kenapa Duma melarang Kang Suro, Kang Suro menyesal karena sudah tidak mengikuti saran dari Duma, Padalah saran Duma benar. Kalo di paksakan pulang maka mudik membawa petaka bagi keluarganya Kang Suro

0 comments on “Balada Mudik Kang Suro : Mudik Membawa PetakaAdd yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *