Mengenal Pola Doktrinisasi Radikalisme

Generasi muda merupakan aset penting dan sangat berharga bagi bangsa dan negaranya. Pentingnya generasi muda sebagai aset negara ini memerlukan pengelolaan dan penjagaan yang sangat intensif, termasuk membentengi generasi muda dari serangan doktrin radikalisme.

Radikalisme sering kali terjadi karena dangkalnya pemahaman terhadap dalil-dalil jihad. Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad Dimyati Asy-Syafi’i berpendapat soal jihad dalam kitab ‘Hasyiyah ‘Ianatut Thalibin’, “Kewajiban jihad adalah wasilah (perantara) bukan tujuan, karena tujuan perang adalah memberi hidayah atau petunjuk kebenaran. Oleh sebab itu membunuh orang-orang kafir bukanlah tujuan yang sebenarnya, sehingga seandainya hidayah bisa disampaikan dan dihasilkan dengan menunjukan dalil-dalil tanpa perang, maka hal ini lebih utama daripada peperangan”. Pemikiran Sayyid Bakri ini perlu dicerna para pengelora jihadis radikal. Umat Islam jangan mudah dicekokin dalil-dalil perang yang salah tempat dan konteksnya.

Masyarakat perlu menyadari bahwa generasi muda saat ini sedang darurat doktrin radikalisme. Pada tahapan yang pertama, orang akan didoktrn dengan membangkitkan nostalgia zaman kejayaan Islam di era kekhalifahan. Sistem khilafah ini sendiri sudah berakhir pada 1929 ditandai dengan runtuhnya Ottoman Turki.

Tahapan yang kedua, doktrin dilakukan dengan menampilkan kekejaman Yahudi dan Amerika Serikat. Ditahapan yang ketiga mereka mengenalkan dalil-dalil berupa potongan ayat Al-Qur’an dan Hadits sesuai dengan pemahaman mereka untuk menibulkan ketertarikan dan keinginan untuk berjihad. Selain itu mereka juga selalu berbicara perihal mati syahid dan janji manis surga yang akan memberikan mereka 72 bidadari pendamping.

Kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi membuat kelompok-kelompok radikal ini mengembangkan ideologinya dengan sangat efektif dan efisien. Sebab mereka benar-benar memanfaatkan sosial media untuk membuat propoganda dan mendoktrin ideologi mereka kepada banyak orang.

Banyaknya narasi-narasi doktrin radikal di dunia maya tentu harus dilawan juga dengan narasi-narasi kontranya di dunia maya pula. Sebab seringkali doktrin radikal ini tidak disadari oleh pengguna dunia maya. Maka dari itu selain dengan menyebarkan pemahaman agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin, perlu juga dilakukan dengan cara menyebarkan banyak konten positif yang membuat orang jadi tidak tertarik lagi untuk membaca konten-konten propoganda yang membelokkan ajaran agama dan pemecah belah bangsa.

 

Sumber tulisan jalandamai.net

0 comments on “Mengenal Pola Doktrinisasi RadikalismeAdd yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *