Millennial dan Pancasila

Perumusan Pancasila sebagai ideologi final bangsa Indonesia melalui perjalanan yang berliku-liku dan tidak mudah. Pancasila sebagai pedoman berbangsa dan bernegara dirumuskan dengan berbagai pertimbangan agar dapat diterima semua kalangan bangsa Indonesia yang pada dasarnya berbeda-beda bahasa, ras, suku, adat istiadat, agama,  dan masih banyak perbedaan-perbedaan lainnya.

            Keberhasilan Pancasila sebagai ideologi final bangsa Indonesaia tidak serta merta dapat diaplikasikan dengan mudah di tanah yang penuh keragaman. Perbedaan sering kali membuat satu dan lainnya saling menyimpan kebencian. Terlebih jika sudah berbeda pandangan dan kepentingan, Pancasila seakan-akan sekedar nama, tidak lagi terpatri di dalam dada.

            Propaganda, kebencian, hoax, adu domba dan yang sejenisnya menjadi permasalahan serius bangsa Indonesia. Tidak sekedar menjadikan ketidaknyamanan bersama tetapi juga mengancam ideologi Pancasila. Tidak sedikit yang sengaja membuat keriuhan demi mencapai keinginannya untuk merubah ideologi bangsa Indonesia. Maka dari itu Indonesia membutuhkan peran aktif pemuda dalam mempertahankan Indonesia.

            Di era ini tentu bukan saatnya lagi mempertahankan martabat bangsa dan negara dengan mengangkat senjata. Pemuda harus mengambil peranan aktif dalam setiap lini masa dan kehidupan nyata dengan menanamkan, mengaplikasikan dan menyebarluaskan nilai-nilai yang terkandung dalam tiap butir pancasila.

            Dalam mengaplikasikan sila pertama, ketuhanan yang maha Esa”, millennial sebagai generasi zaman now harus memahami dengan baik agama yang dianutnya dan menghargai keyakinan orang lain yang berbeda dengan dirinya. Ketika seseorang sudah pada taraf sebagai umat beragama yang benar-benar memahami agamanya, maka ia tidak akan lagi mengusik apa yang diyakini oleh orang lain. Umat beragama yang taat juga tentu tidak akan mudah tersulut emosi, tidak akan ringan lidah dan jempolnya mengeluarkan ujaran kebencian disertai kebohongan, tidak akan lemah imannya saat melihat orang lain menjalankan ibadah keagamaannya. Dengan menjadi umat beragama yang taat, kita tentu akan paham bahwa persatuan dan perdamaian jauh lebih indah dari pada perpecahan.

            Millenial juga harus adil dan beradab sesuai dengan apa yang tertuang dalam sila ke dua. Adillah sejak dalam hal apapun sejak dalam pikiran. Akui kebenaran meski kebenaran itu datang dari orang yang berlawanan dengan kita, akui kesalahan meski kesalahan itu datang dari diri sendiri. Jangan hanya karna berbeda kepentingan, lantas berbuat seenaknya dan membuat standar ganda.

            Adab kita juga perlu dijaga, terlebih dalam era digital ini terkadang cuitan jempol kita tajam sekali hingga sering kali membunuh fakta yang ada. Maka itulah penting adab kita tanamkan dimana saja, sebab kitapun harus menjaga persatuan Indonesia. Jika memang ada hal-hal yang sekiranya janggal, hal tersebut bisa dimusyawarahkan dengan baik tanpa harus ribut-ribut sana-sini demi terciptanya keadilan dan tidak ada pihak yang dirugikan.

            Millennial sebagai generasi penerus bangsa di masa depan sudah sepatutnya mampu memahami, mendalami dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila di kehidupan sehari-hari, memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk mempererat tali silaturahmi. Tidak hanya itu, millennial juga bertanggung jawab untuk terus mengkampanyekan toleransi dengan berbagai inovasi untuk meredam narasi-narasi penuh benci, sebab millennial adalah toggak masa depan bangsa ini. Maka mari kita mulai semuanya dari diri sendiri.

Penulis: Annisa Fathia Hana

0 comments on “Millennial dan PancasilaAdd yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *