Filosofi Panjat Pinang dan Kontroversinya

Semarak hari kemedekaan Indonesia yang ke-74 sudah banyak dirasakan diberbagai kota sejak Jum’at 16 Agustus 2019. Hal yang paling lekat dari perayaan hari kemerdekaan selain upacara bendera dan mengenang jasa-jasa pahlawan kita adalah perlombaan 17an di berbagai elemen masyarakat.
Di tingkat sekolah, RT, Desa, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi bahkan sekelas lembaga negara ikut memeriahkan euforia kemerdekaan. Berbagai macam perlombaan diadakan dengan rasa gembira. Tentu sobat damai sudah tidak asing lagi dengan perlombaan-perlombaan yang ada saat 17an seperti makan kerupuk, balap karung, masukin paku ke botol, masukin jarum ke benang, joget balon, tarik tambang dan yang paling seru nih biasanya panjat pinang. Seru gitu nontonya, ga kebayang kalau jadi yang manjatnya, pasti badan pada sakit sih ya hehe.
By the way, sobat damai udah tau belom nih kalo ternyata panjat pinang ini punya filosopi tersendiri loh. Nih yang pertama, panjat pinang ngajarin kita tentang arti gotong royong dimana dalam perlombaan ini kerjasama tim sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan.
Yang kedua adalah untuk saling menyemangati. Dalam hidupsekuat apapun kita tentu kita butuh untuk tetap disemangati dong yaa sama orang-orang disek itar kita terlebih orang-orang yang memang memiliki tujuan bersama dengan kita.
Nah yang ketiga nih yang juga ga kalah penting adalah untuk menunjukkan kerja keras dan ketekunan. Hal ini sangat terlihat ketika kita memanjat, diperlukan keteguhan, ketekunan dan usaha keras untuk bisa sampai keatas.
Makna panjat pinang yang keempat adalah kesabaran. Kerja keras tanpa kesabaran tidak akan menghasilkan apa-apa. Dalam panjat pinang sering kali pemain mengalami kegagalan saat sudah hampir sampai di puncak, maka dari itu mereka harus mengulang kembali dan mengulang semuanya dari awal untuk dapat memenangkan permainan. Hal ini sangat membutuhkan kesabaran tingkat tinggi.
yang terakhir adalah memperkuat rasa saling percaya. Memanjat pohon yang dilumuri oli tentu bukan hal yang mudah, maka butuh kepercayaan satu sama lain dengan sepenuh hati bahwa siapapun yang sampai ke puncak tujuannya adalah untuk kebahagiiaan bersama. Kemenangan tidak akan didapatkan jika tidak tim saling mencurigai satu sama lain.
Namun ternyata perlombaan panjat pinang juga menuai kontroversi sebab katanya panjat pinang sudah ada sejak zaman Belanda. Panjat pinang kala itu dijadikan hiburan. Rakyat diberikan hadiah oleh Belanda berupa makanan dan pakaian namun tidak dengan Cuma-Cuma. Rakyat harus berlomba untuk menaiki batang pinang yang sudah licin untuk mengambil hadiah tersebut. Rakyat harus bersusah payah untuk mengambil hadiah itu sedangkan orang-orang Belanda menonton mereka sambil menjadikan mereka bahan tertawaan.
Karna sejarah kelamnya ini panjat pinang dianggap tidak layak untuk dilestarikan dalam perayaan 17an. Namun di luar dari sejarah kelam tradisi panjat pinang, masih banyak masyarakat yang melestarikannya karna filosopi di dalamnya seperti yang disebutkan diatas.
Bagaimana dengan perlombaan di lingkunganmu sobat damai? Masih melestarikan panjat pinang juga kah? hehe

Penulis: afh

0 comments on “Filosofi Panjat Pinang dan KontroversinyaAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *