Karakter Anak Bangsa Tanggung Jawab Bersama

Penguatan pendidikan karakter (PPK) merupakan salah satu kebijakan pemerintah dalam program pendidikan. Kebijakan PPK ini terintegritas dalam Gerakan Nasional Resolusi Mental yaitu sebuah gerakan yang mengupayakan perubahan cara berpikir, bertindak serta bersikap menjadi yang lebih baik dengan mengutamakan nilai-nilai nasionalis, religius, mandiri, integritas dan gotong royong.

20190225_170253_0000.png

Dilansir dari web Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, PPK memiliki tiga tujuan pokok, yaitu :

  1. Membangun dan membekali siswa sebagai generasi emas Indonesia Tahun 2045 guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan;
  2. Mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dengan memperhatikan keberagaman budaya Indonesia;
  3. Merevitalisasi dan memperkuat potensi dan kompetensi ekosistem pendidikan.

PPK yang diharapkan mampu menjadi tonggak persiapan untuk memperbaiki keilmuan, nilai-nilai moral dan spiritual nyatanya masih harus melalui banyak tantangan.  Dalam beberapa minggu terakhir fenomena dimana beberapa siswa mulai berani mempertontonkan ketidaksopanan terhadap guru dengan cara meledek, merokok di dalam kelas, mengajak berkelahi bahkan menganiaya guru dan petugas sekolah menjadi tamparan yang begitu perih dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Aris Zebua dalam tulisanya di Kompasiana mengatakan bahwa PPK yang dibuat masih dalam ruang lingkup yang sangat sempit dimana PPK hanya terbatas antara pendidik dan peserta didik. Atau sejauh-jauhnya hanya dalam ruang lingkup sekolah saja. Padahal masalah pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab sekolah tetapi juga harus melibatkan banyak pihak diantaranya keluarga dan lingkungan sekitar.

Pendidikan karakter di sekolah akan menjadi percuma jika dalam kehidupan keluarga terutama dari orang tua tidak memperhatikan keseharian anak karena terlalu sibuk bekerja dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah. Terlebih jika memang lingkungan sekitarnya sudah mulai dipengaruhi oleh nilai-nilai negatif dimana nilai-nilai moral dan religiusitas sudah dianggap kuno dan mulai ditinggalkan.

Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah tidak akan berarti apa-apa jika siswa lebih di dominasi oleh pengaruh-pengaruh negatif dari lingkungan sekitarnya. Nilai-nilai yang sudah ditanamkan akan hilang dengan sendirinya ketika sudah membaur dengan lingkungan sekitarnya.

Itulah sebabnya mengapa pendidikan karakter harus melibatkan relasi yang lebih luas dari sekedar lingkungan sekolah. Terlebih dalam era globalisasi dimana teknologi informasi sangat mudah diakses, media sosial tidak pernah lepas dari kehidupan, tantangan karakter anak bangsa tentu semakin besar.

Kunjungi juga : Generasi Muda Anti Radikalisme

Di era ini siapa saja, usia berapa saja, dapat mengakses apa saja di internet. Siapa saja bisa menuliskan apa saja di sosial medianya. Sekolah tentu tidak 24 jam mengawasi siswa, maka perlu keterlibatan keluarga terutama orang tua dan orang-orang terdekat di lingkungan sekitar untuk terus mengawasi perilaku anak di luar sekolah dan terus membimbing untuk terus mengaplikasikan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.

Sekolah, keluarga dan lingkungan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan sebagai kunci penguatan pendidikan karakter anak bangsa. Tantangan dalam pelaksanaan pendidikan karakter idealnya menjadi semangat dan komitmen bersama untuk saling bahu membahu menyelesaikan masalah dekadensi moral saat ini demi masa depan bangsa Indonesia yang lebih beradab.

Penulis : Annisa Fathia Hana

0 comments on “Karakter Anak Bangsa Tanggung Jawab BersamaAdd yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *