Hari Anak Nasional: Pentingnya Mencegah Radikalisme Pada Anak

Annisa Fathia Hana

Anak merupakan salah satu aset besar, bukan hanya bagi keluarga tetapi juga bagi negara. Bagaimana bangsa ini ke depannya, tergantung pada bagaimana generasi yang lebih tua dalam mendidiknya. Tentu bukan hal yang mudah menciptakan generasi bangsa yang berguna dan berkualitas. Terlebih dengan semakin kompleksnya problematika kehidupan dan semakin beratnya tantangan zaman.

Salah satu permasalahan yang cukup krusial adalah masalah radikalisme yang mengalir semakin cepat di berbagai platform sosial media. Mudahnya arus informasi, komunikasi dan berbagai visualisasi dimanfaatkan dengan baik oleh kelompok-kelompok radikal untuk mencari “mangsa” baru. Minimal informasikan dapat diterima khalayak ramai sehingga ideologi mereka mendapat dukungan dari banyak orang. Maksimalnya informasi yang mereka sajikan dapat merekrut anggota baru.

Anak-anak terutama pada usia puber berada pada usia rentan terpapar ideologi radikal. Pasalnya usia puber adalam masa-masa dimana manusia sedang mencari jati dirinya, mencari banyak hal yang dirasa “gue banget”. Pola pikir yang belum matang, pemahaman agama yang rendah dan kurangnya pengawasan dari orang tua sering kali menjadi penyebab banyaknya anak-anak terpapar ideologi radikal.

Agama sering kali dijadikan dalih untuk melancarkan persebaran ideologi mereka. Meski beberapa kelompok punya tameng lain untuk merekrut anggota. Namun pada umumnya agama lah yang dijadikan bungkusan ideologi mereka. Pemahaman agama yang kontekstual dan sering kali menggunakan ilmu cocokologi menggunakan ayat kitab suci dalam merespon suatu isu menjadi sebuah problem yang cukup memprihatinkan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kelompok-kelompok radikal cukup mahir dalam menarik perhatian masyarakat terutama yang berada dalam usia puber. Kelompok-kelompok ini banyak menguasai berbagai platform sosial media dan pengemasan kontennya sangat menarik sehingga mudah dicerna dan diterima.

Tidak heran jika banyak keterlibatan anak-anak usia puber dalam radikalisme bahkan sampai pada aksi teror. Contohnya Bom JW Marriot dan Bom Surabaya. Tidak hanya itu, bahkan salah satu remaja perempuan berusia SMA pernah berhasil memboyong keluarganya ke Suriah setelah banyak mengkonsumsi konten-konten yang diunggah kelompok radikal di sosial media.

Hari anak nasional yang jatuh pada 23 Juli seyogyanya menjadi momentum untuk menyadari bahwa problematika anak-anak hari ini bukan lagi hanya persoalan hendak sekolah dimana dan akan jadi apa. Sebab kehidupan saat ini sangat lekat sekali dengan sosial media, bukan hanya bagi orang dewasa, bahkan anak-anak TK saat ini sudah mahir dan melek betul dengan perkembangan zaman. Maka, meski disibukkan dengan berbagai urusan pekerjaan, orang tua harus tetap peduli, mau mengawasi dan paham akan bahayanya jika membiarkan anak dengan gadgetnya begitu saja.

Keluarga sebagai agen sosial utama dalam kehidupan harus mampu menanamkan dan mengaplikasikan nilai-nilai moral kepada anak. Ketika nilai-nilai moral sudah tertanam, apapun agama yang dianutnya, anak akan menjadi pribadi yang baik, yang mampu menghargai dan mengasihi sesama manusia.

Selain itu di tengah maraknya doktrinasi radikal dan juga propoganda perpecahan dewasa ini, orang tua juga harus mampu menanamkan nilai-nilai keagamaan dan kesatuan berbangsa  dalam waktu yang bersamaan.

Penanaman nilai moral, agama dan kesatuan dalam berbangsa secara beriringan bertujuan agar anak tidak hanya berat kepada satu titik sehingga mengesampingkan aspek yang lain. Sebab tiga hal tersebut adalah sebuah satu-kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan. Sehingga jika ketiga hal ini sudah melekat dalam kehidupan anak, anak akan memiliki benteng dengan pondasi yang kuat dan tidak akan mudah terpapar ideologi radikal di sosial media.

Pondasi yang dibentuk pada anak di usia dini akan berpengaruh pada pola pikirnya saat dewasa nanti, sehingga apa yang dibentuk hari ini akan memiliki dampak pada bangsa ini. Maka dari itu, dalam rangka memperingati Hari Anak mari kita tingaktkan rasa kepedulian kita terhadap anak, adik, keponakan dan anak-anak lain yang ada di lingkungan kita. Menjaga mereka dengan cinta; menyelamatkan masa depan bangsa.

 

 

0 comments on “Hari Anak Nasional: Pentingnya Mencegah Radikalisme Pada AnakAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *