Bagaimana Kebencian Itu Hadir dan Bagaimana Menyikapinya?

“Hatred is like a long, dark shadow. Not even the person it falls upon knows where it comes from, in most cases. It is like a two-edged sword. When you cut the other person, you cut yourself. The more violently you hack at the other person, the more violently you hack at yourself. It can often be fatal. But it is not easy to dispose of. Please be careful, Mr.Okada. It is very dangerous. Once it has taken root in your heart, hatred is the most difficult think in the world to shake off.”

― Haruki Murakami, The Wind-Up Bird Chronicle

Pernahkah kamu merasa benci terhadap seseorang, terhadap suatu kaum atau kelompok? terkadang kebencian itu terasa begitu kuat, walau pada kenyataanya kita sendiri tidak tahu mengapa bisa sebenci itu.

Dalam ilmu psikologi, Dr. Sigmund Freud mendefinisikan benci sebagai pernyataan ego (ke-akuan) yang ingin menghancurkan sumber-sumber ketidak bahagiaannya. Dan hal ini dapat dipicu oleh berbagai hal di antaranya :

Rasa Takut

“In time we hate which we often fear” – William Shakespeare

Mungkin kamu pernah mendengar ungkapan seperti ini “Jangan berteman dengan si A a, dia orang Kristen, nanti kamu di apa-apain” atau “Jangan mau berteman sama si B dia itu orang Cina, mereka itu pelit dan licik”. Tanpa disadari ungkapan-ungkapan demikian turut membentuk perspektif kita terhadap orang yang berbeda agama dan ras dengan kita, kita menjadi takut jika bertemu atau berteman dengan orang yang berbeda dengan kita.

Mirisnya, hal ini sering kita dengar dari orang-orang terdekat dan keluarga dan terjadi saat kita masih kanak-kanak. Selaras dengan pendapat Alfred Adler dan Karen Horney berkeyakinan bahwa kepribadian yang bermusuhan dan penuh kebencian berkembang pada masa kanak-kanak,namun para ahli neu-analitik ini tidak menyatakan bahwa kepribadian seperti itu ditimbulkan secara langsung dari insting atau dorongan biologis.

Karen Horney yang juga memandang masa kanak-kanak sebagai sesuatu masa kehidupan dimana seorang individu dapat menjadi penuh kebencian,menyatakan bahwa anak-anak harus merasa aman ketika kanak-kanak agar dapat berkembang sebagaimana semestinya.

Dari sinilah benih-benih kebencian berpotensi besar untuk muncul, perspektif dan pandangan kita telah terbentuk negatif, hingga pada akhirnya hanya akan menimbulkan curiga, merasa terancam dan akhirnya membenci.

Rasa Ketidakpuasan

Seorang perempuan melakukan tindak kekerasan kepada keluarganya sendiri karena dalam pembagian warisan, misal si A mendapatkan bagian yang lebih kecil daripada si B, padahal si A merasa bahwa ia adalah anak yang tertua, sudah banyak membantu biaya pengobatan dan lain-lain, ia lantas merasa kecewa dan tidak puas atas hasil pembagian warisan tersebut, padahal secara agama bagian perempuan memang tidak lebih banyak dari laki-laki.

Prasangka Buruk

Dikutip dari Tirto.id (15/06/2017) Walters et. al. menyebutkan faktor utama yang memotivasinya adalah prasangka buruk terhadap orang atau kelompok tertentu. Prasangka ini dapat terbentuk dari sosialisasi dan internalisasi terus menerus oleh keluarga, pihak sekolah, teman-teman, atau orang-orang di sekitar pembuat ujaran kebencian.

Studi yang dilakukan McDevit et. al. (2002) mengindikasikan motivasi lain yang dimiliki para pembuat ujaran kebencian. Perasaan senang atau sensasi adalah sesuatu yang dikejar oleh 66% pelaku yang diteliti McDevit et. al. Menariknya, mereka yang mengejar kesenangan ini bukanlah orang-orang dengan level prasangka tinggi, melainkan orang-orang yang level prasangkanya rendah atau sedang. Dengan kata lain, bukan mereka yang membenci satu pihak sampai ke ubun-ubun yang memiliki motivasi ini, melainkan orang-orang yang sekadar tidak suka atau sentimen sesaat saja yang kerap ditemukan membuat ujaran kebencian. (Tirto.id – Mengapa orang membuat ujaran kebencian, 15/06/2017)

Kurangnya Saling Memahami

Kesalahpahaman pun seringkali memicu terjadinya konflik yang berujung pada kebencian dan tindakan criminal, beradu argument demi mempertahankan sentimentilnya masing-masing, dan mirisnya ini sering tejadi hanya karena masalah sepele.

Seperti kasus pembakaran Vihara di Tanjung Balai pada 2016 lalu, yang bermula dari volume pengeras suara masjid. Dikutip dari BBC.Com (30/07/2016) ketegangan bermula menjelang shalat Isya, setelah Meliana, seorang perempuan Tionghoa berusia 41 tahun yang meminta agar pengurus mesjid Al Maksum di lingkungannya mengecilkan volume pengeras suaranya.

Mungkin perempuan itu merasa terganggu karena volume pengeras suaranya terlalu keras. Berkaca dari peristiwa ini, sebagai masyarakat yang beragama, alangkah baiknya jika kita bisa saling mengerti dan memahami, terlebih mengenai batasan-batasan dan aturan-aturan yang ada. toh, aturan dibuat untuk menjaga keamanan dan ketertiban bukan?

Yang menjadi tantangan saat ini adalah maraknya Hate Speech dan Hoax di internet pada medium sosial, seperti yang dipaparkan dalam studi yang dilakukan oleh McDevit et. al. bahwasanya seringkali orang-orang yang melakukan ujaran kebencian adalah mereka yang sekadar tidak suka atau sentimen sesaat saja. Mementingkan ego untuk kesenangan dan kepuasan pribadinya, atau mungkin untuk suatu tujuan dan kepentingan tertentu.

Jimi Hendrix mengatakan “Ketika kekuatan cinta mengalahkan rasa cinta atas kekuasaan, maka saat itu Dunia akan mengenal perdamaian

Hate Speech dan Hoax yang terjadi di dunia maya atau kita kenal sebagai media sosial, jangan dianggap sepele, baik itu yang menyerang perorangan maupun kelompok, kebencian dimanapun mustahil mendatangkan ketenangan dan perdamaian, ia malah merobek-robek dan memecah-belah sesuatu yang sudah utuh. Begitupula dengan kita, bukankah seringkali kitapun mengalaminya, dalam pertemanan misalnya, si A membicarakan keburukan dan kejelekan si B kepada kita, lama-lama kitapun merasa turut membenci si B padahal kita tidak memiliki masalah apa-apa dengannya, karena kita tidak meng-crosscheck kembali apakah yang dikatakan teman kita itu benar atau tidak.

Begitupula-lah yang terjadi di dunia maya yang sering kita kunjungi sekarang ini. Sebelum Hate Speech, Hoax dan kebencian semakin merajalela, melanglang dikehidupan kita, ada baiknya kita merenungkan quote berikut

“Darkness cannot drive out darkness: only light can do that. Hate cannot drive out hate: only love can do that.” ― Martin Luther King Jr.

Maka, lawanlah segala bentuk kebencian dengan menyebarkan sebanyak-banyaknya pesan perdamaian. If there’s no hate in this world, it will be the ideal situation for those who have always coveted and prayed for peace and love among all the countries. Because “Peace cannot be achieved through violence, it can only be attained through understanding.” ― Ralph Waldo Emerson

0 comments on “Bagaimana Kebencian Itu Hadir dan Bagaimana Menyikapinya?Add yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *