TOLERANSI BERAGAMA DALAM MASYARAKAT

Perbedaan merupakan sunnatullah, kita telah diciptakan berbeda agama, suku, bangsa, dan RAS, memang sudah ada dari zaman-zaman sebelumnya. Seperti yang diisyaratkan Allah dalam Al-qur’an pada surat al-hujurat ayat 13 :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Wahai manusia! Sungguh kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha mengetahui, Maha teliti.

Maksud dari ayat diatas adalah agar saling mengenal , dengan saling mengenal kita dapat berkomunikasi yang dapat menjalin hubungan harmonis, kerja sama dan saling mendukung.

Toleransi adalah ketika kita melakukan apa yang kita yakini, lalu mampu menerima apabila orang  lain tidak melakukan apa yang kita yakini. Bukan toleransi jika kita melihat keyakinan orang lain, lalu kita mengikuti apa yang mereka lakukan agar dikatakan toleransi.

Seperti sekarang yang banyak membahas tentang toleransi dan intoleransi, toleransi umat yang satu kepada umat yang lainnya dengan mengikuti perayaannya, menggunakan atribut yang dipakai, mengunjungi tempat ibadahnya ketika merayakan hari raya, ataupun sekedar mengucapkan yang hanya kata-kata. Jika tidak mengikuti apa yang dilakukan, bukan berarti intoleransi. Kita tidak boleh memaksa orang dalam urusan agama seperti yang dikatakan Allah dalam Al-qur’an (Q.S al-baqarah : 256  ) “ لَا إكْرَاه فِي الدِّينtidak ada paksaan dalam memeluk agama.

Pada awal masa islam, tokoh kaum musyrik mekkah menawarkan kompromi kepada nabi yang menyangkut tentang agama atau kepercayaan. Mereka menawarkan Nabi mengikuti kepercayaan mereka setahun dan mereka juga mengikuti ajaran Nabi setahun. Dan mereka berkata “ kalau agamamu benar maka kami mendapat keuntungan dan jika agama kami benar maka kau juga mendapat keuntungan. Namun usulan tersebut ditolak oleh Nabi karena tidak mungkin dan tidak logis jika ada penyatuan agama. Setiap agama berbeda dengan agama lain.

Toleransi adalah membiarkan mereka menjalankan apa yang mereka yakini tanpa ikut campur. Mengapa? Karena ini merupakan permasalahan aqidah. Maka kita tidak boleh mengikuti ibadah keyakinan orang lain, karena ibadah mereka adalah ibadah mereka dan ibadah kita adalah ibadah kita. Sebab prinsip toleransi dalam islam adalah “ lakum diinukum wa liya diin“ bagimu agamamu dan bagiku agamaku. ( Q.S Al-kafiruun : 6 ).

Kita boleh fanatik dalam beragama, tapi yang tidak boleh itu kita mengatur agama orang lain. Dalam bertetangga, satu pekerjaan, silaturahmi, tolong menolong itu tidak mengapa, Rasulullah pun mengajarkan kita untuk saling mengasihi, itulah yang disebut sebagai toleransi. Satu hal yang perlu dicatat bahwa toleransi tidak boleh mengorbankan prinsip-prinsip keyakinan agama, sebagaimana keyakinan agama tidak boleh dikorbankan demi toleransi.

Oleh : Riza Puspita Danian

0 comments on “TOLERANSI BERAGAMA DALAM MASYARAKATAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Hai Sobat Damai ?