Menjadi Agen Perdamaian di Era Post truth

Era Post-Truth dikenalkan oleh Steve Tesich melalu esainya pada harian the nation tahun 1992. Menurutnya fenomena Post-Truth ini tak ubahnya uoaya memainkan opini publik dengan mengesampingkan dan bahkan mendegradasi fakta dan data informasi yang objektif. Post-Truth sengaja dikembangkan menjadi alat propaganda dengan tujuan menggiring opini publik untuk mencapai suatu tujuan. Bisa kita berkaca dengan pesta rakyat yang baru-baru ini terjadi di Indonesia. Pemilihan presiden tahun ini menjadi bukti bahwa era post-truth melalui media sosial benar adanya.

Media sosial saat ini bukan hanya menjadi tempat hiburan semata melainkan tanpa kita sadari menjadi tempat utama dalam mendapatkan segala informasi. Fenomena perubahan komunikasi, dari cara-cara dan melalu media konvensional menuju digitalisasi sudah kita rasakan. Adanya media sosial bisa dikatakan menjadi ‘jalan tol’ untuk mendapatkan segala informasi. Apa yang kita rasa benar, akan kita pertahankan tanpa meninjau kembali kebenaran tersebut. Bukti nyata bahwa Post-truth itu nyata, dan bahkan keresahan SteveTesich itu benar adanya.

Adanya media sosial menjadikan berbagai informasi mengalir deras dan cepat. Entah itu berita benar atau bisa jadi berita itu  hoax , fake news bahkan false news. Sebagai netizen kita harus bijak memilah segala informasi yang kita dapat dan kita bagi kepada khalayak. Netizen saat ini bukan hanya berperan sebagai penerima informasi saja bahkan berperan memproduksi sebuah berita dan membentuk opini publik. Adanya citizen journalism sebagai bukti benar adanya netizen sebagai pembuat berita.  Saring sebelum sharing memang harus selalu dilakukan karena apa yang kita share bisa jadi menjadi boomerang untuk kita.

Budaya literasi dan fact checking yang sangat rendah menurut saya menjadi salah satu faktor terbesar mengapa berita hoax berserakan di media sosial. Dan lebih parahnya lagi kita menjadi salah satu bagian dalam menyebarkan berita hoax tersebut. Konsekuensi yang kita hadapi bukan perkara kecil, perpecahan bahkan kerusuhan akibat berita hoax adalah beberapa contoh besar akibat yang nyata terjadi disekitar kita.

Lantas bagaimana kita menjaga perdamaian di era post truth ini? Kita bisa menjadi agen perdamaian dengan terjun langsung ataupun menjadi bagian. Membuat konten positif mengenai persatuan bisa kita lakukan, Youtube bisa menjadi salah satu platform media sosial yang bisa kita gunakan. Buatlah konten bermanfaat untuk memerangi berita hoax. Memang cara termudah memerangi konten negatif dengan memperbanyak konten positif. Menjadi bagian perdamaian bisa kita lakukan dengan selalu fact checking dan saring sebelum sharing. Mungkin ini terdengar klise tetapi benar adanya. Dengan terus melakukan hal tersebut media sosial yang kita gunakan menjadi “good netizen bukan menjadi toxic netizen”.

Penulis : Jinan V.B.

Gambar : Pixabay

0 comments on “Menjadi Agen Perdamaian di Era Post truthAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *