5 TIPS MENJAGA HARMONISASI LEWAT TRADISI SUKU BADUY

Suku Baduy atau “Urang Kanekes” sudah tidak asing lagi di telinga kita. Suku yang terletak di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten ini merupakan salah satu suku di Indonesia yang masih memegang erat budaya dan warisan leluhur dalam menjalankan kehidupan sesuai dengan adat yang berlaku. Suku ini juga terkenal dengan isolasi diri dari modernisasi, khususnya Suku Baduy Dalam.

Dibalik potret kebanyakan mata tentang Baduy yang jauh dari teknologi dan informasi, terdapat hal menarik yang harusnya dapat kita gali sebagai generasi yang haus akan informasi.

Sebelum menyoroti baduy, mari tengoklah rentetan perjalanan bangsa ini dari generasi ke generasi, berbagai macam sulut api terpatri membakar hati, sehingga memunculkan pergesekan yang hampir mengarah pada perpecahan. Sudah cukup banyak darah tumpah di tanah kelahiran kita, isu sosial, isu politik, isu ekonomi dan SARA (suku, agama, ras dan budaya) semua sudah mewarnai perjalanan bangsa ini.

Mari kembali ke Baduy, apa yang kita ketahui tentang Baduy? Sejauh mana kita mengenal  Baduy? Mengenal Budaya Indonesia?

Setelah ditelisik, ternyata budaya Indonesia memang solusi terbaik untuk menjaga harmonisasi kehidupan berbangsa dan bernegara, kali ini mari kita lihat apa saja yang Baduy ajarkan kepada kita mengenai tips dalam menjaga harmonisasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pertama, Patuh terhadap pemimpin. Urang Kanekes atau orang Baduy selalu patuh terhadap apa aturan yang dibuat oleh leluhur dan pemimpin adat atau Pu’un (Ketua Adat), selain itu mereka juga patuh terhadap Panggede atau pemimpin daerah seperti Bupati dan Gubernur, hubungan tersebut dapat dilihat dari Seba Baduy, di mana masyarakat baduy bersama-sama memberikan hasil panennya kepada pemimpin daerah di Lebak dan di Banten

Kedua, Musyawarah masih menjadi solusi. Budaya asli Indonesia ini memang sudah jarang kita lakukan untuk mencari solusi, namun Suku Baduy masih erat memegang budaya dan adat ini dalam setiap persoalan, tidak hanya untuk urusan internal suku baduy sendiri. Namun, kepada Panggede atau pemimpin daerah juga masih terus dilakukan salah satunya dalam urusan menjaga alam Kanekes.

Ketiga, Terbuka, mengerti dan mengasihi.  Baduy Luar contohnya, mereka selalu terbuka dengan kedatangan orang luar asalkan kita mengerti dan menghargai adat dan budaya yang dimiliki. Wujud kasih baduy juga tertuang di acara Seba Baduy, mereka rela berjalan lebih dari 100 KM untuk berbagi hasil panennya kepada kepala daerah.

Keempat, Mengedepankan Solusi bukan Emosi.  Pada acara trip to Baduy damai 22-23 Juni 2019,  yang diadakan oleh Duta Damai Dunia Maya Banten. Salah satu orang baduy sebut saja Kang Yayat, ketika ditaya perihal hiruk pikuk pergesekan bangsa di tahun 2019 saat itu tepatnya pra pemilihan presiden. Beliau menjawab “tidak ada gunanya kita perdebatkan secara berlebihan apalagi sampai berkelahi” jika di terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Kang Yayat juga menegaskan bahwa di Baduy sendiri tidak pernah terjadi perkelahian dan pergesekan antar warganya, dikarenakan hal tersebut bisa diselesaikan dengan kekeluargaan dan tidak ada untungnya bahkan kerugian yang akan didapatkan.

Kelima, Gotong Royong. Tolong-menolong tanpa pamrih atau biasa disebut dengan gotong royong masih menjadi tradisi urang Kanekes, contohnya mereka masih membuat rumah dengan bantuan tetangga dan warga sekitar, juga hampir dalam semua aspek.

Semoga kita dapat belajar dari Urang Kanekes, dan semoga harmonisasi bangsa selalu ada di Indonesia.

0 comments on “5 TIPS MENJAGA HARMONISASI LEWAT TRADISI SUKU BADUYAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Hai Sobat Damai ?