Ramadan yang Tidak Mudah di Tengah Wabah

Ramadan kali ini terasa berbeda. Rasanya tidak semua orang menyambut dengan penuh suka cita. Bukan berarti berkurangnya rasa cinta pada yang Maha Kuasa. Namun realita menancapkan sedalam-dalamnya luka sebab banyak dari mereka yang kehilangan orang-orang yang dicinta, banyak yang harus menjalankan ibadah jauh dari keluarga, banyak yang akhirnya tidak bisa pulang untuk bertemu orang tua.

Perih rasanya melihat banyak pekerja yang di phk, melihat pekerja harian yang kehilangan sumber nafkah untuk keluarga. Tak kuat hati melihat mereka yang kehilangan orang tua dan sanak saudara tanpa bisa menemani di ujung usianya, padahal tidak pernah benar-benar tahu positif atau tidaknya.

Rasanya tidak adil kalau kita berpura-pura bahagia, sedangkan duka masih berselimut di dalam dada dan belum lepas dari ingatan di kepala. Sulit untuk mengucapkan “tidak apa-apa” ketika semua isi kepala ingin diteriakkan sekencang-kencangnya.

Sialnya banyak dari kita yang belum sadar juga, atau sebenarnya sadar tapi hanya pura-pura saja. Berkeliaran di luar rumah dengan sengaja seakan punya cadangan nyawa. Mengantarkan diri ke dalam marabahaya yang bukan hanya akan menjerumuskan dirinya, tetapi juga keluarganya.

Mereka yang seolah punya banyak nyawa lupa, di rumah sakit sana tenaga medis berjuang sekuat tenaga, rela jauh dari keluarga, demi meminimalisir hilangnya nyawa. Kalau kamu masih keras kepala, bisa jadi nanti kamu menjadi salah satunya. Terbaring di ruang isolasi tanpa ditemani siapa-siapa.

Kawan, kita sedang hidup dalam keadaan yang tidak mudah di tengah wabah. Ada banyak hal dan kebiasaan yang sudah semestinya diubah. Berdiam dirilah di rumah, fokuskan Ramadan mu untuk beribadah. Aku, kamu, mereka, kita semua rindu berkegiatan di luar sana. Maka, mari kita berkerja sama agar pandemi ini berakhir dengan segera. Sesegera mungkin agar semua kembali normal seperti sedia kala, sesegera mungkin agar kita bisa berbahagia di hari raya.

0 comments on “Ramadan yang Tidak Mudah di Tengah WabahAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Hai Sobat Damai ?