TIGA TIPS GENERASI MUDA JAGA SOLIDARITAS

Banten, sebuah provinsi di ujung barat Pulau Jawa ini kaya akan heterogenitas. Dengan segala kekayaan yang ada, tak ada eksklusifitas di kelompok tertentu di Banten. Generasi muda khususnya, terus menggemakan semangat persatuan melalui penerapan sikap toleran. Pada Rabu (4/11), dua dari anggota gerakan damai ini dimintai pendapatnya soal perbedaan dan tips toleran untuk menghadapinya. Mereka adalah Abdul Raufian Rizkiansyah dan Tri Puji Aprilia Tampubolon, Sekretaris Duta Damai Banten. Berikut ini tiga tips yang dapat dilakukan anak muda untuk mengamalkan toleransi.

  1. Menyadari Bahwa Indonesia Dibangun di Atas Heterogenitas

Poin pertama ini disampaikan oleh Tri Puji Aprilia, atau akrab disapa Puji. Menurutnya, sebagai anak muda yang seringkali merasa eksklusif dibanding individu atau kelompok tertentu, penting bagi generasi milenial menyadari bahwa Indonesia memang kaya akan perbedaan. Sekretaris Duta Damai 2018 ini sangat menyadari bahwa ia merupakan kelompok minoritas di lingkungannya. Ia pun melanjutkan, “Namun, saya tidak merasa kecil karena saya sadar kalau Indonesia dibangun dari banyak perbedaan.”

  1. Bangga Menjadi Orang Indonesia

Puji juga menjelaskan pentingnya kebanggaan sebagai orang Indonesia. Di poin kedua ini, ia menekankan bahwa yang unik dari Indonesia adalah kepulauannya dan kebhinekaannya. “Saya Batak dan saya tidak malu menunjukkan kalau saya Batak.” Puji mengatakan bahwa kita harus berani menunjukkan ciri khas kita.

  1. Menerima Perbedaan

Dalam kesempatan ini Rauf, panggilan akrabnya, menyampaikan bahwa tips utama menghadapi perbedaan adalah dengan mengakui adanya perbedaan itu sendiri. Melalui pengakuan ini, kita diharuskan menerima satu sama lain. “Sebuah perbedaan untuk diterima. Tidak ada yang sempurna karena masing-masing orang punya ketidaksempurnaan,” kata Ketua Koordinator Duta Damai Banten ini. Menurut Rauf, kunci terpenting untuk mencapai ini adalah sadar diri. “Perbedaan gak harus disamakan. Kalau disamakan, jadi lu ya lu, gue ya gue”, lanjutnya.

Menjelaskan bukti konkret untuk hal ini, Rauf mengambilnya dari hidup kesehariannya. “Saya temenan dengan yang satu agama kok, beda pandangan”, jelasnya. Ia pun mengatakan bahwa dengan adiknya pun ia sering mengalami perbedaan dalam konteks pandangan, terutama soal cara menghormati orang tua. Namun, yang terpenting adalah ia menerima bahwa mereka memiliki perbedaan. Rauf pun mencontohkan sikap menerima perbedaan pandangan tersebut sebagai seorang pasangan. “Juga dengan teman hidup saya. Sering berdebat. Akhirnya salah satu orang harus menerima.”

Perbedaan merupakan keniscayaan, bahkan termasuk ketika membahas soal perbedaan itu sendiri. Setidaknya itulah yang tampak dari penyampaian anggota Duta Damai Banten 2018. Seperti pepatah lama, tak kenal maka tak sayang, untuk itulah kita harus mengenali perbedaan yang ada di sekitar untuk memperkaya toleransi dan meminimalkan eksklusifitas. Ingat kata Gus Dur, “Agama melarang adanya perpecahan, bukan perbedaan” (JalanDamai.net, 2018).

0 comments on “TIGA TIPS GENERASI MUDA JAGA SOLIDARITASAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×

Powered by WhatsApp Chat

× Hai Sobat Damai ?