SERUAN BOIKOT DAN AMARAH GLOBAL, DEMI ABSENSI KELAS

“Jika saya tidak mengatakan itu kepada ayah saya, semua ini tidak akan terjadi dan tidak akan menyebar dengan begitu cepat,” sesal Z (News.Detik.com, 2021). “Itu” yang dimaksud oleh Z adalah kebohongannya pada Oktober 2020 lalu mengenai pengusiran pelajar Muslim dari kelas, termasuk dirinya, yang sedang membahas ilustrasi Nabi Muhammad. Narasi palsunya telah berujung pada kemarahan sang Ayah, keterlibatan teroris internasional, hingga pemenggalan sadis gurunya sendiri.

Waktu telah berlalu lebih dari lima bulan sejak keramaian publik akan cerita Z dan pemenggalan yang terjadi pada Oktober 2020. Hingga tiba-tiba Le Perisien, media lokal Prancis, memberitakan pengakuan mengejutkan oleh Z pada 7 Maret 2021. Seperti dilansir TheGuardian.com (2021), setelah pemenggalan gurunya, keramaian publik, dan amarah internasional, Z mengakui bahwa ia berbohong. Berdasarkan pengakuan teman-temannya pada penyidik, Z tidak menghadiri kelas dimana Samuel Paty, sang guru, menunjukkan ilustrasi tersebut. Perempuan 13 tahun ini tidak hadir karena ia harus menghadapi sanksi akibat sering bolos kelas. Menghindari amarah dari sang Ayah, Z pun memilih untuk mengarang cerita berkedok agamis sebagai pembelaan diri.

Tipuan ini harus dibayar mahal dengan konsekuensi lintas geografis yang menyulut kemarahan masyarakat Muslim internasional. Indonesia, Turki, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, dan Kuwait berlomba-lomba melakukan boikot produk Prancis. Dalam narasi solidaritas agama dan bela iman tersebut, mereka menyampaikan kritik-kritik keras pada pihak Prancis. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menuduh Presiden Prancis, Macron, sebagai pengusung Nazisme. Duta Besar Prancis juga dipanggil oleh Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, sebagai upaya penyampaian protes (Tirto.id, 2020).

Di Indonesia sendiri, nuansa panas dan protes begitu terasa terutama melalui pemberitaan nasional. Pada 11 November 2020, massa GPI (Gerakan Pemuda Islam) melakukan sweeping di minimarket Menteng, Jakarta Pusat. Mereka membeli, membuang, dan membakar komoditas yang dianggapnya merupakan produk Prancis (News.Detik.com, 2020). Demonstrasi juga terjadi di sejumlah titik, termasuk IFI (Institut Français Indonesia), Bandung (Suara.com, 2020). Bahkan Pemerintah Kabupaten Karawang menerbitkan surat edaran pelarangan produk Prancis diperdagangkan di daerah mereka (Jabar.Inews.id, 2020).

Lantas setelah kebohongan anak 13 tahun tersebut terkuak, bagaimana memaknai kelanjutan semua tindakan “gagah berani” yang digaungkan tersebut. Lebih penting daripada itu, bagaimana memaknai semua tindakan lampau yang telah dilakukan. Bagaimana memaknai teriakan “Nazisme”, perobekan poster, dan pembakaran berlusin-lusin botol kemasan produk Prancis kemarin yang ternyata didasarkan pada kebohongan seorang bocah SMP? Jelas akan sulit untuk menuntut upaya reflektif bagi para pelaku terlibat. Minimal yang harus dipertanyakan adalah bagaimana tindak lanjut kedepannya setelah kehadiran konsekuensi yang muncul.

Epictetus, seorang filsuf Yunani, pernah menyampaikan sebuah kutipan terkenal. Bunyinya; “any person capable of angering you, becomes your master”. Setiap orang yang mampu membuatmu marah, menjadi atasanmu. Berbicara dalam konteks Z dan kebohongannya, ribuan orang telah dibutakan amarah oleh Samuel Paty dan juga Presiden Macron. Hal ini pun memicu tindakan-tindakan impulsif dan destruktif pada barang-barang Prancis.

Sebagai mahluk rasional yang memiliki kehendak bebas akan pembuatan pilihan dan berpikir, manusia harus sadar bahwa dalam era aktual ini relativitas realitas telah menjadi begitu tinggi. Tak ada lagi kepastian yang pasti dan kemutlakan yang mutlak. Wacana berpikir manusia modern menjadi begitu dangkal sebagai akibat kehadiran media-media pemberitaan. Tsunami informasi menjadikan manusia terjebak dalam relativitas fakta. Memaksa manusia menerima mentah-mentah narasi media akan sebuah tindakan di seberang benua yang bahkan tak pernah dilihat, dan menjadikan itu sebagai alasan membuat keputusan.

Akhir kata, kebijaksanaan memanglah relatif. Tapi begitu juga kebenaran dan kepastian. Setidaknya dalam kondisi ini, sebagai manusia rasional pantaslah kita bertanya, “pelajaran kebijaksanaan apa yang bisa diambil dari rantai peristiwa kebohongan Z ini”?

Sumber:

Debora, Yantina. 2020. Kronologi Munculnya Aksi Boikot Produk Perancis di Berbagai Negara. 2 November. Diakses Maret 16, 2021. https://tirto.id/kronologi-munculnya-aksi-boikot-produk-perancis-di-berbagai-negara-f6xH.

Detik.com. 2021. 5 Fakta Baru Pemenggalan Guru di Prancis yang Dipicu Kebohongan. 11 Maret. Diakses Maret 16, 2021. https://news.detik.com/internasional/d-5489192/5-fakta-baru-pemenggalan-guru-di-prancis-yang-dipicu-kebohongan/1.

Garjito, Dany. 2020. Ramai Boikot Produk Prancis, Tempat Les Bahasa Prancis Ini Ikutan Didemo. 2 Novermber. Diakses Maret 16, 2021. https://www.suara.com/news/2020/11/02/182939/ramai-boikot-produk-prancis-tempat-les-bahasa-prancis-ini-ikutan-didemo?page=all.

Willsher, Kim. 2021. Samuel Paty murder: how a teenager’s lie sparked a tragic chain of events. 8 Maret. Diakses Maret 16, 2021. https://www.theguardian.com/world/2021/mar/08/samuel-paty-how-a-teenagers-lie-sparked-a-tragic-chain-of-events.

Penulis: Josef Christofer Benedict

0 comments on “SERUAN BOIKOT DAN AMARAH GLOBAL, DEMI ABSENSI KELASAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Hai Sobat Damai ?