SAKSI BISU KERAJAAN BANTEN BERJAYA (SUROSOWAN)

Indonesia merupakan negara yang kaya akan suku serta kebudayaannya. Menurut Pusat Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan per tahun 2018 ada sebanyak 2.319 Cagar Budaya yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, tidak terkecuali di Provinsi Banten. Pada tahun 2018 terdapat 28 Cagar Budaya yang tersebar di Provinsi Banten. Keraton Surosowan menjadi salah satu dari banyaknya cagar budaya yang ada di Banten.

Istana yang di sebut dengan nama Surosowan di perkirakan telah berdiri pada abad 17 M. Keraton Surosowan bukanlah tempat tinggal raja Banten Lama yang pertama. Selama ini banyak masyarakat yang menduga bahwa Surosowan merupakan tempat tinggal sultan Banten yang lama, padaha tidak. Tempat tinggal sultan Banten yang pertama di perkirakan didirikan di dekat Karangantu, antara Tahun 1552 M sampai dengan 1570 M. Istana Surosowan di bangun melalui empat fase. Menurut keterangan sumber sejarah di sebutkan bahwa dinding Surosowan tingginya sekitar dua meter, lebar lima meter. Panjang pada bagian Timur-Barat adalah 300 M, sedangkan pada bagian Utara-Selatan adalah 100 meter. Luas keseluruhan yang dibentengi adalah sekitar 3 hektar. Disetiap sudutnya terdapat bastion yang berbentuk intan, dan di tengah dinding Utara dan Selatan terdapat proyeksi setengah lingkaran

Pada mulanya Benteng Surosowan memiliki 3 pintu gerbang, yaitu pintu Utara, Timur, dan Selatan. Gerbang Timur dan Utara dibuat dalam bentuk lengkung, dimaksudkan untuk mencegah tembakan langsung pada portal bila pintu gerbang di buka. Kedua gerbang dibuat dengan atap setengah silinder. Diluar benteng dibuat sungai buatan yang menyatu dengan Sungai Cibanten, sehingga memiliki Keraton Surosowan.

Dinding yang mengelilingi istana tersebut, pada fase pembangunan awal, lebarnya tidak lebih dari 100 m – 125 m, tanpa bastion dibangun dari susunan bata berukuran besar yang dicampur dengan adonan tanah liat (lempung). Fase pertama termasuk penataan dinding paling luar, mungkin terjadi pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin (1552M-1570 M). Pada masa pembangunan fase ke dua, didirikan dinding bagian dalam dan bastion. Dinding bagian dalam berfungsi sebagai penahan api atau pembakaran. Jadi, antara fase pertama dan kedua telah terjadi perubahan fungsi dinding, yaitu dari yang berfungsi sebagai tembok kelilling kemudian menjadi tembok pertahanan dengan unsur-unsur Eropa. Sesudah masa ini, Surosowan disebut sebagai Port Diamand oleh pihak Belanda. Pembangunan fase ke tiga adalah tahap pendirian kamar-kamar disepanjang dinding Utara, penambahan lantai untuk mencapai dinding penahanan api (parapet). Pembangunan fase ke empat dilakukan perubahan pada gerbang Utara dan mungkin juga pada gerbang Timur. Pada lapis luar dinding bata dilapis secara merata dengan mengunakan karang. Pada fase pembangunan yang terakhir, yaitu ke lima, terjadi penambahan banyak kamar dibagian dalam dan penyempurnaan isian dinding. Secara keseluruhan, dapat dikatakan Surosowan merupakan saksi bisu kerajaan Banten yang pernah berjaya pada masanya.

Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id

0 comments on “SAKSI BISU KERAJAAN BANTEN BERJAYA (SUROSOWAN)Add yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Hai Sobat Damai ?