Menjaga Pancasila: Berjihad Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Indonesia merupakan negara dengan penduduk penganut agama Islam terbesar di dunia. Meski demikian Indonesia juga dikenal dengan negara yang kaya akan keberagaman termasuk keberagaman agama. Perlu ditekankan bahwa Indonesia hanya negara dengan penduduk penganut agama Islam terbanyak, bukan sebagai negara Islam. Maka dari itu Indonesia memerlukan dasar negara yang dapat diterima oleh semua kalangan dan semua umat beragama yang ada di Indonesia. Itulah sebabnya Pancasila dijadikan dasar negara kita untuk mempersatukan perbedaan-perbedaan yang ada.

Pancasila dibentuk atas pemikiran matang para pendiri bangsa untuk menyatukan dan mempererat persatuan diatas perbedaan-perbedaan yang ada di negeri ini. Nilai-nilai dalam setiap butir Pancasila dirancang sedemikian rupa agar tidak bertentangan dengan ajaran agama manapun, termasuk ajaran agama Islam.

Namun akhir-akhir ini menyeruak seruan-seruan untuk mengganti dasar negara Indonesia dengan menggunakan sistem yang berbasis syariah secara keseluruhan sebab Pancasila dianggap sebagai simbol kemusyrikan yang bahkan disebut sebagai Thaguth. Seruan-seruan mengganti dasar dan sistem negara ini beberapa kali menjadi trending di media sosial. Bukan hanya itu, bahkan banyak seruan-seruan “jihad” melawan kethaguthan yang ada di Indonesia.

Kelompok-kelompok ini sering kali membuat propoganda dengan membenturkan permasalahan-permasalahan yang ada yang dianggapnya disebabkan oleh ketidakmampuan demokrasi dan Pancasila mengakomodir kepentingan dan kesejahteraan bersama demi mendapat dukungan dari masyarakat luas. Padahal sering kali justru tidak ada korelasinya sama sekali. Seakan-akan jika sistem khilafah ditegakkan semua masalah akan terselesaikan.

Padahal Pancasila yang dianggapnya sebagai simbol kemusyrikan itu tidak sama sekali melenceng dan justru malah selaras dengan ajaran-ajaran agama Islam. Ketuhanan yang Maha Esa; Kemanusiaan yang Adil dan Beradab; Persatuan Indonesia; Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan; Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia; kelimanya mengandung nilai-nilai yang juga diajarkan dalam ajaran agama Islam.

Korelasi Butir-Butir Pancasila dalam Ajaran Agama Islam

Sila pertama yakni “Ketuhanan yang Maha Esa” selaras dengan apa yang tertuang dalam beberapa ayat di dalam Al-Qur’an diantaranya terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas ayat pertama yang artinya:

“Katakanlah, Dialah Allah yang Maha Esa”

Hal ini juga tertuang dalam surat Al-Hasyr ayat 22-24 yang artinya:

“Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. “

Sila kedua yakni “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” juga selaras dengan apa yang tertuang dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 135 yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman. Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Maha teliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.

Selanjutnya  sila ketiga yakni “Persatuan Indonesia” diatas keanekaragaman yang ada sudah ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujaraat ayat 13 yang artinya

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. “

Kemudian dalam sila keempat yakni “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan” juga selaras dengan Surat As-Syuro Ayat 38 yang artinya:

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Rabb-nya, dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rejeki, yang Kami berikan kepada mereka.”

Sila yang terakhir yakni “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” juga selaras dengan apa yang tertuang dalam surat An-Nahl ayat 90 yang artinya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (manusia) berlaku adil dan berbuat kebaikan, memberi (sedekah) kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu (manusia), agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Pentingnya Pengimplementasian Pancasila

Keselarasan butir-butir Pancasila dengan Al-Qur’an yang merupakan sumber hukum dalam Islam menunjukkan bahwa eksistensi Pancasila tidak berbenturan dengan ajaran agama sehingga Pancasila sebagai dasar negara tidak perlu diganti dengan dasar negara dengan bentuk yang bagaimana pun. Sebab jika diubah dalam bentuk yang lain, belum tentu perubahan itu memberikan solusi dalam permasalahan yang ada, yang sudah pasti adalah pergantian dasar negara akan menimbulkan permasalahan-permasalahan baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sudah barang tentu penganut agama lain tidak akan menerima sistem yang baru ini sehingga nantinya akan menimbulkan keretakan bahkan hingga perpecahan dalam tubuh bangsa Indonesia sendiri. Beberagai wilayah yang diisi oleh mayoritas Non-muslim tentu akan memberontak jika dipaksakan untuk mengikuti sistem yang berbasis agama namun bukan dari agamanya sendiri. Hal ini akan membuat Indonesia terpecah belah dan membuat sekat tinggi antar umat beragama.

Maka dari itulah tidak ada lambang atau atribut satu agamapun yang dicantumkan dalam identitas nasional, hal ini untuk menghargai keberagaman beragama yang ada di Indonesia. Itulah mengapa Pancasila dijadikan dasar negara dan sumber hukum. Menjaga Pancasila sama saja dengan berjihad menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Itulah sebabnya mengapa Pancasila bukan hanya perlu untuk diketahui sebagai dasar negara dan dihafalkan di luar kepala tetapi juga dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila bukan hanya menjadi dongeng sepanjang masa tetapi juga diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara demi menjaga keutuhan bersama.

Sebab Pancasila tidak berbenturan dengan Syariat, maka mari menjadi umat beragama yang taat sembari menjaga Pancasila untuk tetap menjadi payung keberagaman dalam persatuan yang lebih erat. Mari bersama wujudkan Indonesia kuat yang bermartabat.

Penulis : Annisa Fathia Hana

0 comments on “Menjaga Pancasila: Berjihad Menjaga Persatuan dan Kesatuan BangsaAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *