MENJAGA ASA REFORMASI

“Semuanya berlangsung cepat dan lancar. Pak Harto memberi salam kepada semua yang hadir termasuk saya. Tanpa senyum maupun sepatah kata, ia [lalu] meninggalkan ruang upacara.” – Habibie (dikutip dari Tirto.id, 2021).

Seusai pernyataan diri berhenti sebagai Presiden RI oleh Soeharto, Habibie segera ditunjuk sebagai penggantinya. Keputusan mundur ini menyusul belasan menteri yang sudah terlebih dahulu mengundurkan diri. Mengetahui ini, sorakan dan gegap gempita nasional segera menyambut pemberitaan yang disiarkan langsung oleh televisi pada masa itu. Habibie menggambarkan bahwa proses perpisahan oleh Soeharto berlangsung hening sekaligus lancar.

Pada kelanjutannya, narasi yang dituliskan oleh Habibie dalam memoarnya diatas tak bisa dibaca sebagai satu cerita belaka. Ketiga kalimat dalam tuturan tersebut berdiri di atas latar belakang historis yang besar. Untuk Habibie dapat menuliskan paragraf tersebut, terjadi kematian atas ribuan orang, lebih banyak lagi yang ditangkap, dan amburadulnya ekonomi nasional. Lebih lagi, kondisi ini telah terjadi selama setidaknya dua tahun terakhir pemerintahan Soeharto. Terutama memasukin tahun 1998, kolektifitas masyarakat Indonesia semakin bertumbuh dalam melawan opresi Orde Baru. Kolektifitas yang pada kemudiannya memberikan kebebasan, korban dan juga martir.

Salah satu kasus besar di balik mundurnya Soeharto tersebut adalah kerusuhan massal yang terjadi di berbagai kota seperti Tangerang, Medan, Solo, hingga Jakarta. Dalam tiap kerusuhan di tiap kota ini terdapat pola yang homogen; orang-orang turun ke jalan melakukan perusakan, pembakaran, dan penjarahan toko dan gudang barang. Pada kelanjutannya, kerusuhan yang terjadi mengarah pada sentimen warga keturunan Tionghoa. Sentimen ini dihidupi dengan penjarahan toko-toko dan puluhan kasus pemerkosaan terhadap keturunan Tionghoa.

Kebakaran (atau mungkin ‘pembakaran’) parah membunuh ratusan orang dalam kerusuhan dan penjarahan. Dua gedung pusat perbelanjaan, Sentra Plaza di Klender dan Ciledug Plaza Tangerang, terbakar habis bersamaan dengan ribuan orang di dalamnya. Usai api terakhir dipadamkan, pemandangan memilukan terbit menampakan tubuh-tubuh yang sudah mengarang. “Orang-orang pada lari, saya diinjek juga, bagian belakang salon saya sudah kebakar… anak saya enggak pulang sampai sekarang,” ungkap Ruminah, salah seorang saksi mata pembakaran di Klender (BBC.com, 2018).

Konsekuensi daripada masa-masa krisis ini juga menyerang faktor-faktor ekonomi. Terganggunya dinamika roda perekonomian dan keruntuhan kepercayaan pada pemerintah, menjadi katalis jatuhnya ekonomi nasional – selain juga karena resesi di Asia. Pengangguran mencapai angka 20 juta atau 20% dari angkatan kerja dengan pendapatan per kapita jatuh hingga 610 dollar/kapira pada tahun 1998. Nilai tukar Rupiah pada masa itu pun jatuh pesat hingga Rp 17.000/dollar AS pada Januari 1998 (Money.Kompas.com, 2020).

Selain dimensi politis, sosial dan ekonomi, permasalahan humanis juga mengantui kemunduran Soeharto dalam tulisan di memoar Habibie tersebut. Mahasiswa dan para aktivis turun ke jalan pada masa-masa terakhir rezim Orde Baru. Kerusuhan yang diawali oleh unjuk rasa damai ini berujung bentrok setelah ditanggapi aparat dengan opresi. Ujungnya, empat mahasiswa Universitas Trisaksti meninggal dunia pada pada 12 Mei 1998. Puluhan demonstran lain terluka akibat pukulan dan peluru dari aparat keamanan (Tirto.id, 2021).

Narasi di atas telah menunjukkan betapa perjuangan yang dilandasi atas kekecewan dan kemuakan pada otoritarianisme Soeharto telah mengorbankan berbagai dimensi. Kehancuran ekonomi, pergantian trah oligarki, distopia hukum, hingga hilangnya nyawa. Ribuan jumlahnya. Semua ini demi perwujudan enam tuntutan perubahan; supremasi hukum, pemberantasan KKN, mengadili Soeharto dan kroninya, amandemen konstitusi, pencabutan dwifungsi ABRI, dan otonomi daerah.

Mei 2021 ini menjadi usia ke-23 akan pergerakan dan mimpi Reformasi ini. Di usianya yang sudah lebih dari dua dekade ini, pantaslah kita mempertanyakan pengejawantahan aktual daripada keenam tuntutan tersebut. Apakah Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) sudah diberantas? Apakah otonomi daerah telah berjalan secara adil dan efisien? Atau apabila pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dibawa ke ranah yang lebih personal – apakah manusia Indonesia saat ini masih mampu menjaga asa dari semangat Reformasi itu sendiri? Apakah kita secara individual masih memiliki nasionalisme dan perjuangan akan egalitarian seperti para martir Reformasi?

Jangan sampai, segala pertanyaan tersebut seolah terlalu utopis bagi semangat generasi muda saat ini. Segala pengorbanan darah dan keringat perjuangan ’98 terlalu suci untuk kita reduksi semata sebagai dongeng romantisasi perjuangan. Penghidupan atas prinsip-prinsip tersebut sama pentingnya untuk dihidupi saat ini. Sebabnya, permasalahan akan kekuasaan dalam bermasyarakat akan selalu hadir. Untuk itu marilah sadari realita ini – baik historis maupun aktual – dan hidupi idelaisme positif perjuangan Reformasi.

Penulis: Josef Christofer Benedict

0 comments on “MENJAGA ASA REFORMASIAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Hai Sobat Damai ?