Memerdekakan Diri Dari Ancaman Perpecahan di Dunia Maya

17 Agustus 74 tahun lalu bung Karno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia dari belenggu penjajahan bangsa asing. Proklamasi kemerdekaan Indonesia dilaksanakan atas desakan golongan muda terhadap golongan tua pasca meledaknya bom atom di Hirosima (6 Agustus 1945) dan Nagasaki (9 Agustus 1945) dan menyerahnya Jepang kepada Amerika Serikat dengan tanpa syarat.
Kekalahan Jepang menyebabkan kekosongan kekuasaan yang membuat semangat golongan muda untuk mencapai kemerdekaan semakin berkobar. Meski sudah dijanjikan kemerdekaan, namun golongan muda terus mendesak dan menculik Soekarno pada tanggal 16 Agustus ke Rengasdengklok untuk menyusun teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Sebab bagi golongan muda kemerdekaan bangsa ini harus direbut sendiri, bukan hasil pemberian.
Kemerdekaan Indonesia merupakan suatu hasil akumulasi dari totalitas perjuangan bangsa Indonesia yang didapatkan dengan susah payah, bukan secara gratis. Tentu kita tidak dapat menyangkal bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya diperjuangkan oleh satu dua golongan saja.
Kemerdekaan ini bukan hanya milik tentara Indonesia, bukan juga hanya milik Soekarno yang saat itu menjabat sebagai presiden, bukan hanya milik pemuda yang dengan kobaran semangatnya menginginkan Indonesia merdeka, pun bukan hanya milik rakyat yang ikut memberontak kepada penjajah, tapi tentu milik kita semua. Kemerdekaan bersama yang juga harus terus dirawat bersama untuk mencapai cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Cita-cita besar untuk membentuk negara yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur serta tujuan mulia untuk membentuk suatu negara Republik Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berlandaskan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Tantangan Besar di Era Digital
74 tahun perjalanan bangsa Indonesia menjadi hal yang menarik untuk dibicarakan. Keberagaman di Indonesia yang tidak terhitung jumlahnya tetap menjadikan bangsa Indonesia satu kesatuan yang saling menutupi kekurangan satu sama lain. Tentu bukan hal yang mudah mengimplementasikan semboyan Bhineka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Di era digital dimana akses informasi dan komunikasi sangat mudah menjadi tantangan yang sulit untuk negara yang penuh keberagaman seperti Indonesia. Kita tidak dapat menyangkal bahwa ancaman penyebarluasan paham dan ideologi yang tidak sejalan dengan Pancasila menjadi hal yang terus membayang-bayangi keutuhan persatuan kita di era digital ini setalah sekian lama kita mampu untuk hidup berdampingan dan menghargai satu sama lain.
Sosial media sebagai hal yang tidak pernah lepas dari kehidupan kita dijadikan wadah paling strategis bagi mereka untuk menyebarkan narasi kebencian, penyebarluasan kebohongan, video kekerasan dan sejenisnya sering kali kita lihat di layar sosial media kita. Hal yang paling menyedihkan adalah hal-hal seperti ini terus menerus dinarasikan sehingga publik mempercayai ini sebagai suatu kebenaran dan menumbuhkan kebencian yang baru.
Isu-isu kesukuan, etnis, kebudayaan, hingga keagamaan seakan menjadi gorengan hangat yang lezat dan memiliki banyak penikmat. Pada akhirnya kita terkotak-kotakan oleh sentimen golongan kesukuan, etnis, kebudayaan dan keagamaan tertentu sehingga kita sering kali sulit melihat saudara kita dengan mata yang jernih.
Di usia yang ke-74 tahun ini sudah saatnya kita cerdas menghadapi era digitalisasi. Jangan mau diadu domba oleh kelompok-kelompok yang menginginkan perpecahan di negeri ini. Banyaknya propoganda harus dibentengi dengan kecintaan yang tinggi pada negeri ini. Kecanggihan teknologi seyogyanya dimanfaatkan untuk menyambung silaturahmi dan memperkaya literasi kebangsaan untuk menambah kecintaan kita pada NKRI.
74 tahun Indonesia merdeka, penggunaan sosial media yang semakin merajalela semestinya menambah persatuan kita. Banyaknya budaya, suku, bahasa semestinya menjadi bahan perbincangan yang menyenangkan untuk memperkaya khazanah keindonesiaan kita. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini juga sudah saatnya kita jadikan wadah untuk mempromosikan citra baik Indonesia di mata dunia.
Sudahi segala propoganda di sosial media, merdekakan diri dari golongan-golongan yang ingin memecah belah kita. Hari ini mari kita kenang jasa pahlawan-pahlawan kita yang rela mengorbankan nyawa demi menjadikan kita bangsa yang merdeka. Mari kembali berangkulan, saling mendukung satu sama lain untuk menjadi produk SDM unggulan, agar Indonesia dapat melesat maju kedepan.

Penulis : Annisa Fathia Hana

0 comments on “Memerdekakan Diri Dari Ancaman Perpecahan di Dunia MayaAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *