Bencana Ekologi dan Etika Manusia sebagai Khalifah di Muka Bumi

Bencana alam tidak henti-hentinya melanda berbagai wilayah Indonesia. Belum selesai masalah bencana di satu daerah, muncul lagi di daerah lainnya seakan tidak pernah ada habisnya. Tangis luka duka tidak henti-hentinya tatkala melihat saudara-saudara kita dirundung nestapa.

Bisa jadi alam mulai jenuh atau mungkin dalam level yang lebih tinggi marah. Marah pada sikap manusia yang mulai enggan menjaganya, bahkan cenderung berbuat seenaknya. Marah, bukan azab. Kemarahan alam semacam teguran bagi umat manusia bahwa Tuhan mengirim manusia ke dunia untuk menjadi khalifah, yakni sebagai makhluk yang ditugaskan menjadi penjaga dan perawat di muka bumi ini.

Sayangnya tugas besar dari Tuhan ini sering kali tidak dijalankan dengan baik oleh manusia. Manusia cenderung terjebak pada keinginan mengeksploitasi alam yang seharusnya digunakan sewajarnya dan dijaga dengan sebaik-baiknya. Padahal beberapa bencana dapat dicegah atau paling tidak diminimalisir. Paling tidak misalnya dengan tidak melakukan penggundulan hutan atau penambangan secara ilegal, kemungkinan musibah longsor bisa saja tidak terjadi. Dengan tidak membuang sampah sembarangan dan tidak menyumbat semua tanah dengan beton/ coran, air dapat meresap dengan cepat dan mengalir dengan lancar sehingga tingkat keparahan banjir bisa diminimalisir.

Seharusnya kita sebagai manusia memiliki etika dalam memanfaatkan dan mengelola apa yang disediakan Tuhan di muka bumi ini, menjaga dengan sebaik-baiknya agar tidak terjadi kerusakan yang disebabkan oleh tangan manusia. Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk kebaikan umat manusia itu sendiri.

Adapun etika-etika yang dimaksud yang pertama adalah keselarasan. Alam merupakan subjek yang sama sebagai sama-sama makhluk Tuhan, bukan sebagai objek. Hal ini berarti bahwa alam harus dijaga, dihargai dan dilindungi dengan penuh kasih sayang dan tidak berbuat seenaknya.

Etika yang kedua adalah keseimbangan. Manusia selayaknya memanfaatkan alam untuk keseimbangan ekologi bukan untuk dieksploitasi  habis-habisan.

Etika yang ketiga adalah bahwa manusia merupakan khalifah fil-ardh.  Manusia diberi mandat oleh Tuhan untuk menjaga dengan sebaik-baiknya.

Etika-etika inilah yang bisa meminimalisir terjadinya bencana ekologi. Sebab meski bencana alam tidak bisa ditawar-tawar, beberapa diantaranya bisa diantisipasi dengan tidak memperlakukan bumi seenak diri.

Sumber: jalandamai.net

0 comments on “Bencana Ekologi dan Etika Manusia sebagai Khalifah di Muka BumiAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Hai Sobat Damai ?