5 Bahaya Mudik di Tengah Pandemi

Beberapa waktu lalu, BNPB telah memperpanjang status darurat wabah corona sampai 29 Mei 2020. Hal ini mengindikasikan, status darurat corona bakal melewati Hari Raya Idul Fitri, yang akan jatuh pada 23 Mei 2020.

Tak hanya itu, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi juga menyatakan, tengah mempertimbangkan opsi pelarangan mudik lebaran tahun ini. Hal ini dilakukan guna mencegah penyebaran Covid-19 yang hingga saat ini terus meningkat.

Wacana ini tentu saja disesalkan banyak masyarakat rantau yang berencana mudik lebaran ini. Bahkan, beberapa dari mereka pun telah membeli tiket bus, kereta, ataupun pesawat jauh-jauh hari karena ingin mudik.

Melepas rindu di kampung halaman bersama keluarga tentu menjadi tujuan utamanya. Namun, di sisi lain, saran untuk tidak mudik, tahun ini saja, dianggap menjadi trik jitu untuk mencegah sebaran virus corona yang lebih luas.

Lalu, apa aja sih alasan yang membuat kamu lebih baik tidak mudik saat masa pandemi Covid-19 ini?

  1. Virus Corona Tak Takut Padamu

Sebaran virus corona kian massif sejak pertama kemunculannya di Indonesia beberapa bulan lalu. Virus mematikan ini bisa menyerang siapa saja melalui kontak fisik antar manusia. Bahkan, jelang musim lebaran, saat status darurat Covid-19 masih berjalan, jumlah pengidap Covid-19 bisa bertambah sangat pesat jika masyarakat tetap nekad untuk mudik.

Terlebih, hari ini fakta juga telah membuktikan, semakin hari jumlah kasus semakin bertambah. Begitu pula angka kematian. Jika kamu tidak takut virus corona, maka virus corona lebih tidak takut padamu. Jadi, pikir beberapa kali lagi ya untuk mudik tahun ini!

2. Tak Bisa Physical Distancing

Demi mencegah penularan Covid-19, Presiden Joko Widodo telah mengultimatum untuk tetap menjaga jarak, atau istilah kerennya physical distancing. Melalui ultimatum ini, diharapkan masyarakat tetap di rumah saja, dan menjauhi kerumunan.

Saat musim mudik tiba, physical distancing tentu masih berlaku. Bahayanya, kebanyakan pemudik pasti mengenakan transportasi umum untuk pulang kampung. Ini indikasi bahwa mereka kesulitan untuk saling menjaga jarak, sehingga memperbesar kemungkinan tertular wabah Covid-19.

3. Potensi Penyebaran Covid-19 Meningkat

Dokter Pompini Agustina, SpP dari RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso mengatakan potensi penularan Covid-19 bisa meningkat jelang lebaran. untuk itu, ia sangat menghimbau pada masyarakat untuk tidak melakukan perjalanan jauh, termasuk mudik untuk menghindari sebaran virus lebih luas.

Hal ini disebabkan, para pemudik berpotensi tinggi untuk menjadi carrier—pembawa virus—dari daerah asal yang telah terkena wabah Covid-19. Apalagi jika daerah asal sudah masuk menjadi zona merah. Tanpa sadar, para pemudik bisa menjadi agen penularan.

Tak hanya itu, status carrier tentu bisa menjadi ancaman keselamatan orang banyak, termasuk keluarga di kampung halaman.

4. Status ODP Membayangi

Setiap pendatang yang berasal dari luar negeri ataupun luar provinsi di Indonesia saat kembali ke daerahnya ia akan menyandang gelar ODP. Status ini tentu tidak bisa diremehkan. Pemudik dari luar kota wajib untuk mengisolasi diri selama 14 hari saat tiba di kampung halaman.

Artinya, pemudik tidak bisa menghabiskan waktu bersama dengan keluarga saat lebaran tiba. Terlebih waktu cuti pun lebih singkat dibanding waktu karantina. Pun bila isolasi tersebut tidak dilakukan, pemudik bisa diseret ke jalur hukum seperti yang diterapkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

5. Fasilitas Kesehatan di Daerah Minim

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Dr. Daeng M Faqih mencemaskan potensi penyebaran virus corona saat musim mudik.

Ia juga meragukan kesiapan fasilitas kesehatan di daerah. Fasilitasnya tentu tidak selengkap di kota. Sulit dirasa untuk melakukan penanganan pada pasien dengan cepat. Untuk itu, ia menghimbau agar masyarakat tidak buru-buru mudik, dan bersabar hingga wabah Covid-19 ini dapat diatasi.

Selain itu, ia juga meragukan kesiapan fasilitas kesehatan di daerah tujuan para pemudik yang tidak selengkap di pusat, sehingga sulit untuk melakukan penanganan cepat pasien.

0 comments on “5 Bahaya Mudik di Tengah PandemiAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Hai Sobat Damai ?