Pengorbanan

“Ngapain sih, oma dengar orang teriak-teriak kayak gini?”

“Ini lagi upacara memperingati hari pahlawan, Nan.”

Aku mengecilkan volume radio yang sedari tadi bisingnya mengisi ruangan kamar oma. Radio berwarna silver keluaran 90-an itu masih saja menyala. Mungkin me`ang barang-barang antik lebih tahan lama dibanding produk jaman sekarang.

Oma-ku ini kebetulan istri seorang pensiunan tentara. Opa meninggal 15 tahun lalu karena penyakit stroke yang dideritanya. Opa-ku itu, dulunya letkol yang sering turun dalam misi-misi penting. Bahkan almarhum pernah ikut andil dalam merebut kemerekaan Indonesia. Dulu saat masih hidup, Opa adalah guru sejarah yang paling aku suka.

“Kinan…. Biarin aja Oma denger. Kamu tuh ya anak muda harusnya lebih menghargai kemerdekaan negara kita yang sudah susah payah didapat,” oceh Ibu Kartika, bundaku. Beliau menaruh nampan berisi segelas susu dan sepiring puding.

“Kinan masih suka dengar lagu indonesia raya kok, Bun. Tapi kalau upacara gini malah berisik bunda… kasihan sama anak tetangga yang baru lahir kemarin.”

Oma tertawa pelan. Radio kembali menyala dan kami semua terdiam saat lagu mengheningkan cipta terdengar dengan lantang.

Aku terbangun keesokan harinya saat cahaya matahari tepat menyorot dua netraku yang tertutup. Panas sekali Serang hari ini. Kugaruk lengan atasku yang terasa agak gatal. Sebentar, kenapa piyamaku terasa seperti jaring-jaring?

Astaga!

Kok aku pakai kebaya?

“DI OEMOEMKAN SEBENTAR LAGI!!!” Suara teriakan terdengar dari luar kamar. Aku yang masih bingung melihat sekeliling. Ini jelas bukan kamar Kinan Mayaputeri, mahasiswi tahun terakhir Universitas Tirtayasa. Ini agak …. antik?

Aku merogoh tepian kasur berniat mencari ponselku. Nihil, benda pipih itu ternyata tidak ada. Padahal aku ingat jelas aku menaruh ponselku tepat di sebelah kiri bantal.

“Semoea soedah dioeroes poesat?”

“Aman.”

Percakapan dua laki-laki terdengar samar dari luar pintu kamar ini. Aku memutuskan bangun untuk melihat situasi di luar. Yang kutemui adalah beberapa tentara dengan seragam yang sama seperti opa-ku pakai di foto keluarga. Mereka seperti sedang menyiapkan sesuatu. Ada yang mengetik dengan mesin tik berwarna putih, ada yang membawa dua cangkir teh, dan ada yang sibuk mengutak-atik benda berbentuk kotak dengan antena yang aku tebak adalah radio. Aku kenal siapa dia. Opa. Aku merasakan air mata di pelupuk yang hendak jatuh bebas. Aku amat merindukan beliau.

Indonesia. 17 Agoestoes 1945.

Itu yang aku tahu saat aku membaca selembaran yang tertempel di dinding. Lucu rasanya saat melihat ejaan Bahasa Indonesia lama seperti ini. Setelah hampir setengah jam berdiri tak jauh dari kamar, aku diajak untuk keluar gedung oleh seorang pemuda. Aku menurut. Kami dikumpulkan di sebuah lapangan luas yang sudah dipenuhi oleh keramaian. Suara isakan silih berganti masuk dengan ramah ke dalam indera pendengaranku.

“Mereka nih hanya senang.” Pemuda yang mengajakku keluar tadi angkat bicara. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena kami berdiri tepat di tengah lapangan.

“Kenapa?” tanyaku.

“Darah, cinta, waktu. Semua menjadi satu dan menghasilkan buah manis. Tidak ada penjajah, tidak ada kerja paksa, tidak ada perampasan. Merdeka untuk kita.”

Tangan pemuda itu menunjuk ke arah wanita yang sedang menggendong anak laki-laki yang kutaksir berusia 3 tahunan. “Dia kehilangan suaminya tepat di ulang tahun anaknya. Akhir-akhir jaman belanda. Sebelum pergi dari sini, bangsa eropa itu sempat membantai beberapa pribumi yang dirasa ‘pembangkang’”.

Aku diam saja. Menunduk melihat kain batik lusuh yang membalut pinggangku.

“Kami tidak diberi pilihan. Mengejar kemerdekaan adalah hal utama yang kami lakukan agar negeri ini lebih baik. Agar anak-anak bisa bebas meraih masa depan, membangun negara.”

Kali ini pemuda itu menunduk sehingga aku dapat melihat parasnya. Ia tersenyum amat bahagia. Seperti ini rasanya saat merdeka dari penjajahan? Padahal sekarang bumi pertiwi sedang kacau-kacaunya.

Opa-ku versi muda terlihat membuka jendela lantai dua gedung kumuh yang tadi aku tinggali. Di bahunya radio bertengger manis. Semua orang di lapangan mendadak hening saat suara sayup sayup terdengar dari radio itu. Aku tidak ingat banyak, yang jelas suara Soekarno seperti di film-film sejarah tidak asing saat mengucap kata ‘proklamasi’.

Tangis bahagia memenuhi seisi lapangan. Aku terharu dan ikut menangis. Begitu banyak yang sudah mereka korbankan untuk mendapat pengakuan kemerdekaan. Bendera putih dibentangkan oleh opa-ku versi muda. Sorak-sorak terdengar. Merdeka!

“Akan sangat menyenangkan melihat bendera kita berkibar gagah di angkasa. Lalu tangan hormat pada sangsaka. Anak-anak dengan tenang dan bangga mengaku mereka Indonesia,” kata pemuda tadi. Dia menangis sesengguk saat suara bariton bahwa bendera sudah dikibarkan terdengar melalui radio.

Kadang, kita sering alpa dalam menghargai kemerdekaan. Sebagian besar dari kita tak pernah tahu apa saja yang sudah pahlawan dan orang terdahulu lalui hingga kita dapat berdiri tegak seperti sekarang. Mungkin saja kalau tidak ada peristiwa ini, sekarang kita masih berkutat dengan persenjataan seadanya untuk melawan penjajah.

Apa yang sudah kita berikan pada bumi pertiwi?

Apa yang sudah kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan ini?

“KINANNNN!! AMPUN DEH PUNYA ANAK GADIS!!” Suara bunda terdengar sayup-sayup. Aku kembali membuka mata dan langsung melihat sekeliling.

Indonesia. 10 November 2021.

Aku membawa laptop dan bukuku ke kamar oma. Pasti oma sedang mendengar upacara peringatan hari pahlawan.

“Oma?” panggilku.

Oma tersenyum dan mengayunkan tangannya. Menyuruhku duduk yang kemudian aku turuti. Kami berdua duduk bersebelahan sembari mendengar upacara yang disiarkan melalui radio. Disela-sela itu, aku tahu oma menitikkan air mata sembari mengenang mendiang opa dan semua yang pernah ia lewati sebelum ini.

Terimakasih pada pahlawan.

Terimakasih untuk sudah memerdekakan Indonesia.

Penulis: Putri Syahrani

0 comments on “PengorbananAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×

Powered by WhatsApp Chat

× Hai Sobat Damai ?